sketsa

Refleksi Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2025, Pancasila Pasca Generasi Milenial

Sabtu, 31 Mei 2025 | 17:25 WIB
Mukani, Dosen STIT Urwatul Wutsqo Jombang (dok. SketsaNusantara.id)

Data menyebutkan, 20 persen generasi milenial dengan senang hati berbagi kata sandi yang berpotensi mengorbankam keamanan daring mereka. Kemudian sebagian besar konsumen Indonesia atau sekitar 90 persen menggunakan koneksi Wi-Fi publik. 

Banyak Cara

Kondisi ini harus menemukan titik solusi. Keberlangsungan bangsa Indonesia ke depan akan menjadi tanggung jawab mereka. Meski terdapat beberapa hal-hal yang tidak bisa ditawar terkait kedaulatan bangsa.

Fenomena era milenial ini sesungguhnya menyediakan ruang bagi manusia modern untuk melakukan refleksi dalam maknanya yang substantif. Teknologi, menurut Ngainun Naim (2024), memang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Meski demikian, manusia seharusnya memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Bukan justru terhegemoni dan tidak menjadi manusia yang kreatif.

Teknologi telah menghadirkan sisi positif dan negatif. Ini realitas yang harus dipahami dan disadari bersama. Pemahaman dan kesadaran ini menjadi titik pijak untuk menentukan langkah selanjutnya. Bagi manusia konstruktif, langkah yang bisa dilakukan—antara lain—adalah memanfaatkan teknologi secara maksimal dan mencari solusi atas ekses yang ikut serta.

Baca Juga: Siapa Japto Soerjosoemarno? Profil Ketua Umum Pemuda Pancasila Usai Diperiksa Oleh KPK, Punya Darah Bangsawan

Salah satu hal fundamental yang mengalami perubahan adalah perspektif Pancasila pada generasi milenial. Seiring arus globalisasi dan derasnya informasi, Pancasila juga mengalami perubahan di kalangan milenial. Batas-batas antar negara secara sosial, politik, ekonomi dan budaya menjadi kabur. Orang bisa dengan mudah masuk ke ruang-ruang antar negara. Implikasinya, muncul ketidakpedulian generasi milenial terhadap “nasib” Pancasila.

Realitas semacam ini tentu menimbulkan kegelisahan secara luas. Sulit dibayangkan masa depan bangsa ini jika rasa memiliki terhadap bangsa tidak tumbuh di kalangan generasi muda. Padahal kelompok muda inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin.

Baca Juga: Perbedaan Hari Kesaktian Pancasila dan Hari Lahir Pancasila serta Kaitannya dengan Peristiwa G30S PKI dan Soeharto

Satu strategi yang bisa ditempuh untuk menanamkan nasionalisme adalah melalui Pancasila. Mungkin terdengar normatif-dogmatis. Banyak juga kritik ditujukan pada strategi penyampaian materi Pancasila di kelas yang tidak sesuai dengan harapan. Review pembelajaran Pancasila, menurut Nurgiansyah (2021), cenderung membosankan, monoton dan tidak inovatif. Jika Pancasila diharapkan bisa dipahami secara baik dan terinternalisasi dalam perilaku hidup sehari-hari, menurut Ngainun Naim (2015), diperlukan langkah-langkah kreatif-konstruktif agar apa yang menjadi tujuan bisa tercapai.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan menghadirkan kisah-kisah penuh makna. Aspek yang sekarang ini banyak hilang dalam kehidupan adalah teladan karena era digital menurut Hardiman (2021) ini lebih didominasi oleh sensasi dibandingkan kontemplasi. Implikasinya, perilaku yang tidak sejalan dengan ajaran agama dan moral semakin banyak terjadi. Pada titik inilah internalisasi Pancasila menemukan titik signifikansinya.***

* Dosen STIT Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB