SketsaNusantara.id – Di balik lanskap tenang pedesaan Jember, tersembunyi kisah besi tua yang pernah berderit menyusuri jalur sepanjang 40 kilometer dari Rambipuji hingga Puger.
Jalur kereta api ini, yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20, kini hanya menyisakan jejak diam yang mulai dilupakan oleh waktu.
Dimulai pada 1911 dan rampung dua tahun kemudian, lintasan ini awalnya menggunakan rel sempit selebar 600 mm. Kereta yang beroperasi kala itu dikenal sebagai trem, ditarik oleh lokomotif mungil TC10 yang hanya membawa dua hingga tiga gerbong.
Meskipun sederhana, jalur ini mampu menghubungkan berbagai titik vital di bagian selatan Jember, wilayah yang saat itu menjadi ladang subur bagi berbagai komoditas hasil bumi.
Staatssporwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial, melihat potensi besar dari jalur ini.
"Saking tingginya angka penumpang dan volume muatan, tiga lokomotif dialokasikan khusus untuk melayani rute ini. Bahkan pada 1929, lebar rel ditingkatkan menjadi 1067 mm, menandakan besarnya kepentingan strategis jalur ini bagi penjajah dalam mengangkut hasil perkebunan dan pertanian dari pelosok Jember menuju pusat distribusi," jelas RZ Hakim, sejarawan Jember dalam wawancaranya bersama Tim SketsaNusantara.id.
Perjalanan kereta api dari Rambipuji ke Puger bukan hanya soal alat transportasi, tapi juga kisah tentang keterhubungan antar-wilayah. Stasiun dan halte seperti Kaliputih, Dam Curahmalang, Balung, hingga Grenden menjadi saksi bisu geliat ekonomi masa lalu.
Di setiap pemberhentian, ada denyut kehidupan, baik dari manusia maupun hasil alam yang diangkut setiap harinya.
Namun, kejayaan itu tidak abadi. Memasuki era 1980-an, pesatnya perkembangan transportasi darat seperti bus dan truk mulai menggoyahkan eksistensi jalur kereta ini.
Masyarakat beralih, mencari kecepatan dan fleksibilitas yang ditawarkan moda baru. Perlahan tapi pasti, jumlah penumpang menyusut, komoditas berkurang, hingga akhirnya roda-roda besi berhenti selamanya pada 1986.
Kini, bekas rel itu sebagian besar telah tertutup semak dan bangunan liar. Beberapa stasiun masih berdiri meski tak lagi megah, menjadi bangunan tua yang menyimpan kenangan masa lampau.