Kamis, 4 Juni 2026

Refleksi Peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2024: Guru sebagai Pembiasa Tradisi Literasi

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 23 November 2024 | 09:04 WIB
Mukani, mengisi rubrik Sketsa dengan opini tentang Hari Guru Nasional 2024. (Dok. Sketsa Nusantara )
Mukani, mengisi rubrik Sketsa dengan opini tentang Hari Guru Nasional 2024. (Dok. Sketsa Nusantara )


SketsaNusantara.id - Peringatan Hari Guru Nasional di Indonesia jatuh setiap tanggal 25 November. Secara historis, peringatan itu untuk mengenang kelahiran organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945 silam di Surakarta Jawa Tengah.

Secara etimologi, guru berasal dari bahasa Sanskerta. Guru terdiri atas dua kata, yaitu gu (darkness) dan ru (to push away). Peran substansi guru adalah kemampuan dalam memberikan pencerahan untuk mentransformasikan dari keadaan yang terkungkung “kegelapan” menuju keadaan tercerahkan.

Baca Juga: Sejarah Lagu Hymne Guru, Ternyata Ada Lirik yang Diubah, Kenapa? Berikut Sejarah hingga Maknanya

Variasi Guru

Karakter dan tingkat kemuliaan guru, menurut Mohammad Nuh (2014), ditentukan ragam yang melatarbelakangi menjadi guru. Pertama, guru sebagai profesi. Sejak pemberlakuan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru sebagai profesi membawa dampak luar biasa. Tahun 2005 hingga 2015 merupakan masa transisi guru sebagai profesi. Mewujudkan tujuan ini, digelar berbagai kegiatan pendidikan, pelatihan dan sertifikasi bagi guru yang sudah terlanjur mengajar.

Kedua, guru sebagai pekerjaan. Tidak jarang dijumpai bahwa menjadi guru sebagai pilihan terakhir setelah kesana kemari tidak mendapatkan pekerjaan. Daripada menganggur, akhirnya berlabuh menjadi guru. Sehingga guru diposisikan sebagai pemenuhan pekerjaan dan pilihan terakhir.

Baca Juga: 10 Ucapan Hari Guru Nasional 2024, Kalimat Menyentuh Hati Cocok untuk Ucapan Langsung dan Unggahan Medsos

Ketiga, guru sebagai panggilan jiwa. Kedahsyatan panggilan jiwa bisa melampaui sekat-sekat hambatan untuk menjadi guru. Dia memahami betul esensi menjadi guru adalah membantu dan mengantarkan siswa menjadi manusia sejati berbasis pada perilaku, budi pekerti dan karakter. Sehingga diandalkan pentingnya guru sebagai sumber keteladanan dan inspirasi sehingga guru harus berusaha menampilkan diri sebagai sosok penuh kemuliaan.

Menjadi guru merupakan profesi akademik. Karya publikasi menjadi salah satu indikator tingkat kemuliaan guru. Tidak heran jika kemudian pemerintah memberlakukan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPAN & RB) Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Varian karya tulis ilmiah dari guru bisa berupa presentasi di forum ilmiah, opini di media massa, modul, diklat, buku pedoman, karya terjemah, buku teks, tinjauan ilmiah (best practise), hasil penelitian dan artikel jurnal ilmiah.

Baca Juga: 8 Link Template Kartu Ucapan Spesial Hari Guru Nasional 2024, Bisa Edit dan Unduh Gratis Cocok untuk SD, SMP, SMA

Regulasi ini seolah menjadi oase kecil di tengah kelesuan tradisi menulis di kalangan guru. Dalam konteks yang lebih luas, keringnya tradisi literasi juga sedang mewabah di Indonesia. Kurniawan Muhammad (2005) menulis bahwa dalam setiap hari, seseorang melakukan budaya literer hanya satu persen. Sisanya dihabiskan dengan budaya lisan.

Guru sebagai jabatan fungsional dikenal dengan memiliki angka kredit. Pasal 6 PermenPAN & RB Nomor 1 Tahun 2023 menegaskan bahwa jenjang jabatan fungsional terdiri dari ahli utama, ahli madya, ahli muda dan ahli pertama. Pasal 38 Ayat (1) menegaskan bahwa kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi dapat diberikan dan dipertimbangkan apabila telah memenuhi paling sedikit Angka Kredit Kumulatif kenaikan pangkat. Itu berarti karya tulis menjadi nilai lebih dari seorang guru.

Baca Juga: Khutbah Jumat NU Tema Hari Guru Nasional 25 November 2024: Guru Hebat, Indonesia Kuat!

Pembiasa Literasi
Rilis hasil riset terbaru dari CEO World 2024 cukup mengelus dada. Topik yang diteliti adalah waktu yang dihabiskan untuk membaca dalam kurun waktu satu tahun. Dari 98 negara yang disurvei, Indonesia berada di ranking 31 dengan hanya 129 jam. Ranking tertinggi ditempati Amerika Serikat dengan 357 jam, kedua adalah India dengan 352 jam dan ketiga adalah Inggris dengan 343 jam.

Thomson Scientific pernah mengeluarkan data mencengangkan. Pada 2004, Indonesia hanya menghasilkan 522 karya tulis. Jauh di bawah negeri jiran, hanya 1/3 dari jumlah karya ilmiah Malaysia dan 1/11 jumlah Singapura. Percepatannya pun paling rendah, lebih rendah daripada Vietnam.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB
X