Kamis, 4 Juni 2026

Romi Jahat Berpulang: Tetaplah Lestari Bunga Kertas Merah Berduri

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Selasa, 10 Februari 2026 | 15:49 WIB
Penampilan Romi Jahat saat membawakan lagu Bunga Kertas Merah Berduri  (YouTube Nilai Merah)
Penampilan Romi Jahat saat membawakan lagu Bunga Kertas Merah Berduri (YouTube Nilai Merah)

SketsaNusantara.id - Dunia musik Indonesia kembali berduka. Romi Jahat, vokalis band punk Romi & The Jahats sekaligus salah satu figur penting dalam sejarah awal band Marjinal, meninggal dunia pada 10 Februari 2026. Kabar kepergian Romi menyebar cepat di komunitas musik underground setelah diumumkan secara resmi melalui media sosial band, lalu diperkuat oleh laporan sejumlah media musik independen.

Sebelum berpulang, kondisi kesehatan Romi diketahui menurun sejak Januari 2026. Ia sempat membatalkan beberapa jadwal pertunjukan dalam beberapa waktu terakhir, keputusan yang saat itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan penggemar dan rekan musisi.

Adie Indra Dwiyanto alias Romi Jahat dimakamkan di TPU Kampung Kandang Jagakarsa. Kepergiannya kini meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan personel band, tetapi juga bagi komunitas punk, aktivis budaya, serta generasi musisi yang tumbuh bersama lagu-lagunya.

Baca Juga: Berjalan Lebih Jauh di Jember, Banda Neira Ungkap Perjalanan Musik hingga Lagu Paling Berat Dibawakan

Biasa dipanggil Babeh oleh para penggemarnya, nama Romi Jahat memiliki posisi khusus dalam lanskap musik alternatif Indonesia. Ia bukan sekadar vokalis band punk, melainkan bagian dari sejarah lahirnya musik sebagai alat kritik sosial yang lantang, jujur, dan berpihak pada mereka yang hidup di pinggiran. Julukan “Jahat” yang melekat pada namanya bukanlah simbol kekerasan, melainkan pernyataan sikap tentang keberanian untuk menolak tunduk, menolak jinak, dan menolak diam di tengah ketidakadilan.

Perjalanan musik Romi Jahat bermula pada akhir 1990-an, sebuah periode penting pasca Orde Baru ketika ruang berekspresi mulai terbuka, namun luka sosial masih terasa kuat. Sekitar 1997, Romi bergabung sebagai vokalis sebuah band punk yang kala itu menggunakan nama Anti ABRI, lalu berubah menjadi Anti Military. Nama tersebut secara terang-terangan mencerminkan sikap politik band yaitu penolakan terhadap militerisme, represi, dan kekerasan struktural yang dialami rakyat kecil.

Bersama Mike, Bob, dan Steven, Romi membangun musik punk yang keras dan tanpa kompromi. Lagu-lagu dari era Anti Military bukan ditujukan untuk pasar arus utama, melainkan untuk diteriakkan di jalanan, panggung kecil, dan ruang-ruang alternatif. Album Anti Military/ Tunduk Diam atau Bangkit Melawan (1999) menjadi salah satu penanda penting fase ini, menempatkan musik sebagai seruan perlawanan, bukan sekadar hiburan.

Baca Juga: Profil Lucky Element yang Meninggal Dunia, Biodata Lengkap dengan Sejarah Perjalanan Karier di Dunia Musik

Pada 2001, band tersebut resmi menggunakan nama Marjinal, terinspirasi dari sosok buruh perempuan Marsinah yang menjadi simbol perjuangan kelas pekerja. Bersama Marjinal, Romi Jahat menjadi salah satu suara awal yang membentuk identitas band sebagai representasi kaum pinggiran. Album-album seperti Termarjinalkan, Marsinah, hingga Predator mengukuhkan Marjinal sebagai band punk dengan pesan sosial-politik yang kuat.

Seiring perjalanan waktu, Romi Jahat merasa perlu menempuh jalur ekspresi yang lebih personal. Sekitar akhir 2000-an, ia berpisah dari Marjinal. Keputusan tersebut bukan semata konflik. Dari banyak sisi, Romi ingin memulai berbicara dari ruang yang lebih intim tentang luka personal, kelelahan hidup, dan pergulatan batin yang tak selalu politis, namun tetap lahir dari realitas yang keras.

Baca Juga: Bersenang-senang di Panggung Kampung ala Kalisat Tempo Dulu Bersama Orkes Silampukau dan Kisah dari Negeri Arkipelagia

Dari titik inilah Romi & The Jahats terbentuk, sekitar 2008. Nama “The Jahats” kembali menjadi penegasan sikap bahwa mereka yang dianggap jahat oleh sistem karena menolak patuh. Musik Romi & The Jahats tetap berakar pada punk, namun lebih cair dan reflektif, memadukan unsur alternative dan folk dengan lirik yang jujur dan getir.

Karya-karya seperti “Bunga Kertas Merah Berduri”, “Jingga Hitam”, dan “Yang Mati Bicara” menampilkan Romi sebagai penulis lagu yang berani membuka sisi rapuhnya. Ia menulis tentang kalah, tentang bertahan, dan tentang hidup sebagai manusia biasa yang lelah namun enggan menyerah.

Album Rumah (2018) menjadi salah satu tonggak penting fase ini, diikuti oleh karya-karya berikutnya hingga album Teman (2025). Sedangkan single terakhir Romi Jahat sendiri yang berjudul Satu Satu rilis pada Oktober 2025 lalu. 

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB

Kiprah Kiai Kampung Memajukan Nusantara

Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kebijakan Kuota Haji: Adakah Pelanggarannya?

Senin, 26 Januari 2026 | 09:14 WIB
X