SketsaNusantara.id - Dunia musik Indonesia kembali berduka. Romi Jahat, vokalis band punk Romi & The Jahats sekaligus salah satu figur penting dalam sejarah awal band Marjinal, meninggal dunia pada 10 Februari 2026. Kabar kepergian Romi menyebar cepat di komunitas musik underground setelah diumumkan secara resmi melalui media sosial band, lalu diperkuat oleh laporan sejumlah media musik independen.
Sebelum berpulang, kondisi kesehatan Romi diketahui menurun sejak Januari 2026. Ia sempat membatalkan beberapa jadwal pertunjukan dalam beberapa waktu terakhir, keputusan yang saat itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan penggemar dan rekan musisi.
Adie Indra Dwiyanto alias Romi Jahat dimakamkan di TPU Kampung Kandang Jagakarsa. Kepergiannya kini meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan personel band, tetapi juga bagi komunitas punk, aktivis budaya, serta generasi musisi yang tumbuh bersama lagu-lagunya.
Biasa dipanggil Babeh oleh para penggemarnya, nama Romi Jahat memiliki posisi khusus dalam lanskap musik alternatif Indonesia. Ia bukan sekadar vokalis band punk, melainkan bagian dari sejarah lahirnya musik sebagai alat kritik sosial yang lantang, jujur, dan berpihak pada mereka yang hidup di pinggiran. Julukan “Jahat” yang melekat pada namanya bukanlah simbol kekerasan, melainkan pernyataan sikap tentang keberanian untuk menolak tunduk, menolak jinak, dan menolak diam di tengah ketidakadilan.
Perjalanan musik Romi Jahat bermula pada akhir 1990-an, sebuah periode penting pasca Orde Baru ketika ruang berekspresi mulai terbuka, namun luka sosial masih terasa kuat. Sekitar 1997, Romi bergabung sebagai vokalis sebuah band punk yang kala itu menggunakan nama Anti ABRI, lalu berubah menjadi Anti Military. Nama tersebut secara terang-terangan mencerminkan sikap politik band yaitu penolakan terhadap militerisme, represi, dan kekerasan struktural yang dialami rakyat kecil.
Bersama Mike, Bob, dan Steven, Romi membangun musik punk yang keras dan tanpa kompromi. Lagu-lagu dari era Anti Military bukan ditujukan untuk pasar arus utama, melainkan untuk diteriakkan di jalanan, panggung kecil, dan ruang-ruang alternatif. Album Anti Military/ Tunduk Diam atau Bangkit Melawan (1999) menjadi salah satu penanda penting fase ini, menempatkan musik sebagai seruan perlawanan, bukan sekadar hiburan.
Pada 2001, band tersebut resmi menggunakan nama Marjinal, terinspirasi dari sosok buruh perempuan Marsinah yang menjadi simbol perjuangan kelas pekerja. Bersama Marjinal, Romi Jahat menjadi salah satu suara awal yang membentuk identitas band sebagai representasi kaum pinggiran. Album-album seperti Termarjinalkan, Marsinah, hingga Predator mengukuhkan Marjinal sebagai band punk dengan pesan sosial-politik yang kuat.
Seiring perjalanan waktu, Romi Jahat merasa perlu menempuh jalur ekspresi yang lebih personal. Sekitar akhir 2000-an, ia berpisah dari Marjinal. Keputusan tersebut bukan semata konflik. Dari banyak sisi, Romi ingin memulai berbicara dari ruang yang lebih intim tentang luka personal, kelelahan hidup, dan pergulatan batin yang tak selalu politis, namun tetap lahir dari realitas yang keras.
Dari titik inilah Romi & The Jahats terbentuk, sekitar 2008. Nama “The Jahats” kembali menjadi penegasan sikap bahwa mereka yang dianggap jahat oleh sistem karena menolak patuh. Musik Romi & The Jahats tetap berakar pada punk, namun lebih cair dan reflektif, memadukan unsur alternative dan folk dengan lirik yang jujur dan getir.
Karya-karya seperti “Bunga Kertas Merah Berduri”, “Jingga Hitam”, dan “Yang Mati Bicara” menampilkan Romi sebagai penulis lagu yang berani membuka sisi rapuhnya. Ia menulis tentang kalah, tentang bertahan, dan tentang hidup sebagai manusia biasa yang lelah namun enggan menyerah.
Album Rumah (2018) menjadi salah satu tonggak penting fase ini, diikuti oleh karya-karya berikutnya hingga album Teman (2025). Sedangkan single terakhir Romi Jahat sendiri yang berjudul Satu Satu rilis pada Oktober 2025 lalu.
Artikel Terkait
Selain Fokus Sembuh, Vidi Aldiano Ungkap Alasan Lain Hiatus dari Panggung Musik, Suami Sheila Dara: Gue Sedang...
Dere Raih Penghargaan Bergengsi AMI Awards 2025 untuk Lagu Biru, Bukti Kekuatan Emosi dalam Musik Indonesia
Tarra Budiman Pamerkan Kaos ST12, Bikin Warganet Nostalgia Era Keemasan Musik Pop Melayu
Comeback Fiersa Besari ke Panggung Musik Berujung Insiden di Stasiun Gambir Istri Alami Kecelakaan Usai Manggung di Jakarta
Anang Hermansyah Rampungkan Ujian Tesis, Gagasan Reformasi Tata Kelola Musik Menuai Perhatian Akademik