Baca Juga: Musa dan Adab Kesantrian Dalam Maulid Diba’
Empati yang simbolik—seperti menunda pesta—memiliki kekuatan moral karena menunjukkan keselarasan antara perasaan dan sikap. Namun, empati sejati juga mendorong tindakan nyata: doa, kepedulian, dan dukungan bagi mereka yang terkena dampak bencana.
Dengan demikian, malam tahun baru bisa diubah dari ruang konsumsi dan hiburan menjadi ruang kesadaran dan komitmen sosial. Menahan atau meredam perayaan malam tahun baru bukanlah penolakan terhadap harapan, melainkan upaya menumbuhkan harapan yang lebih dewasa dan penuh empati.
Tahun baru seharusnya tidak hanya diwujudkan melalui pesta dan kembang api, tetapi juga melalui kemampuan kita untuk hadir bagi sesama—terutama mereka yang sedang berjuang memulihkan hidupnya. Sebab, jika malam tahun baru diisi dengan gemerlap lampu dan pesta dan senantiasa dengan rasa mendewakan sesuatu yg bersifat materialisme, maka disitulah perlahan empati akan hilang sampai tak tersisa.
Dalam keheningan dan refleksi itulah, nilai kemanusiaan menemukan maknanya yang paling jujur. Dan dari empati itulah, masa depan yang lebih beradab dapat kita bangun bersama.***
*Alumni Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
3 Puisi Spesial Tahun Baru 2026, Ada yang Romantis dan Penuh Makna untuk Ucapan di Malam Pergantian Tahun
Siap Unduh! 10 Link Twibbon Hari Amal Bakti Kemenag Republik Indonesia 2026, Ayo Pasang Segera di Medsos tuk Perayaan yang ke-80
5 Link Twibbon Tahun Baru 2026 Gratis, Gambar Ucapan untuk Unggahan Medsos di 1 Januari Mendatang