Dalam ruang pelayanan publik, ketakutan sering kali menjadi penghalang terbesar. Ketakutan untuk disalahkan, ketakutan terhadap kesalahpahaman, ketakutan menghadapi audit, atau ketakutan kemungkinan dipersoalkan di kemudian hari. Ketakutan seperti ini memang wajar, namun ketika dibiarkan menguasai proses pengambilan keputusan, ia dapat mandek menjadi budaya organisasi. Lembaga yang seharusnya menjadi harapan masyarakat justru kehilangan peran strategisnya karena pemimpinnya lebih sibuk menghindari risiko daripada menghadirkan manfaat.
Namun sejarah lembaga pendidikan dan layanan sosial menunjukkan bahwa kemajuan selalu lahir dari keberanian. Program pendidikan yang transformatif, pendekatan layanan yang lebih manusiawi, sistem manajemen yang lebih tertata, dan peningkatan kualitas tenaga layanan semuanya lahir dari keberanian para pemimpin sebelumnya. Keberanian bukan berarti gegabah, tetapi kemampuan memutuskan sesuatu yang benar meskipun tidak sepenuhnya bebas risiko.
Refleksi lain yang juga penting adalah bahwa masyarakat memiliki mata hati yang tajam. Mereka tahu siapa yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka mampu menilai mana kebijakan yang membawa manfaat dan mana yang diambil sekadar untuk mempertahankan status quo. Ketika seorang pemimpin bekerja dengan integritas, dukungan akan muncul, bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun. Dukungan moral itulah yang kini terlihat dari berbagai pihak kepada sosok pemimpin BUMN tersebut. Ini menjadi pengingat bahwa kebaikan dan ketulusan tidak hilang begitu saja ketika menghadapi ujian.
Dalam banyak pengalaman, langkah yang tidak diambil jauh lebih berbahaya daripada langkah yang diambil dengan penuh pertimbangan. Tidak berinovasi berarti tidak memberikan ruang tumbuh bagi lembaga. Tidak memperbarui kebijakan berarti membiarkan hambatan lama terus berulang. Tidak mengambil keputusan berarti membiarkan persoalan menumpuk. Pada akhirnya, risiko terbesar bagi suatu lembaga bukanlah inovasi yang gagal, melainkan ketiadaan inovasi sama sekali.
Karena itu, para pemimpin lembaga hendaknya lebih fokus pada agenda pelayanan dan tujuan besar lembaga, daripada terus-menerus menghindari ketakutan. Lebih mulia melangkah membawa manfaat daripada berhenti karena khawatir dipersoalkan. Nama baik seseorang bukan semata-mata karena jauh dari masalah, tetapi karena berani mengambil keputusan yang memberi manfaat meski ada risiko di dalamnya.
Baca Juga: Tak Puas KUHAP? Jimly Asshiddiqie Desak Pihak yang Keberatan Tempuh Jalur Uji Materi ke MK
Peristiwa yang menimpa sosok pemimpin BUMN tersebut menghadirkan satu pesan moral penting. Bahwa keberanian dan integritas pada akhirnya akan menemukan pembelaannya. Lembaga pendidikan dan layanan sosial membutuhkan lebih banyak pemimpin yang berani seperti itu; pemimpin yang tidak hanya menjaga dirinya, tetapi menjaga masa depan lembaganya. Pemimpin yang tidak bekerja demi popularitas, tetapi demi pelayanan kepada masyarakat. Pemimpin yang tidak takut berinovasi demi kepentingan bersama.
Selama tujuan kebijakan diarahkan pada manfaat publik dan dijalankan dengan integritas, langkah inovatif tidak akan pernah menjadi sia-sia. Karena masyarakat, pada akhirnya, selalu tahu siapa yang sungguh bekerja untuk mereka.***
*Pemerhati masalah sosial dan Praktisi Pendidikan, tinggal di bestariindonesia.com
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Prabowo Subianto Berikan Rehabilitasi ke Eks Dirut PT ASDP Ira Puspadewi, Apa Itu? Ini Aturan hingga Syaratnya dalam Undang-Undang