Minggu, 19 Juli 2026

Guru, Buku dan Peradaban

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Senin, 24 November 2025 | 08:55 WIB
Mukani, Guru SMAN 1 Jombang dan Pengurus LTN PWNU Jatim. (SketsaNusantara.id)
Mukani, Guru SMAN 1 Jombang dan Pengurus LTN PWNU Jatim. (SketsaNusantara.id)

Buku karya seorang guru seharusnya memiliki beberapa indikator sebagai buku bermutu. Tema yang diusung menarik dan khas. Gaya kepenulisan tidak membosankan bagi para pembaca. Terlebih jika ditampilkan berbagai data dan informasi terkini. Buku itu bukan hasil jiplakan dan banyak direkomendasikan pihak-pihak yang berkompeten. Penerbitnya juga harus terpercaya. 

Sumber ide tulisan karya guru bisa berasal dari lingkungan sekolah, terutama yang unik dan menginspirasi. Kebijakan pemerintah, pernyataan tokoh dan berita di media massa yang sedang aktual juga bisa dijadikan bahan awal dalam menulis karya. Kajian terhadap kitab referensi sebagai rujukan (turats) maupun buku teks pelajaran juga dimungkinkan menjadi sumber tulisan bagi guru.

Sebagai penulis yang baik, guru harus menulis berdasar fakta dan bukan hoax serta tidak menjelekkan yang lain (hate speech). Ejaan dan kaidah tulisan juga wajib diperhatikan. Termasuk juga terbuka untuk minta masukan dari ahli atau teman sebaya. Pada tahap awal, dimungkinkan juga menulis berkolaborasi bersama teman-teman guru lainnya, misalnya berbentuk buku antologi. Dan terakhir, tidak menyerah untuk terus berlatih jika karya masih ditolak untuk diterbitkan.

Baca Juga: Puisi Spesial Peringatan Hari Guru Nasional: Ungkapan Rasa Terima Kasih yang Menyentuh Hati

Merawat Peradaban

Peradaban, menurut Gunsu Nurmansyah (2012), merupakan bagian dari kebudayaan. Dia berasal dari bahasa Belanda (bescahaving), bahasa Inggris (civilization), bahasa Jerman (Die Zivilsation) dan bahasa Latin adalah (civilis) yang berarti sipil. Ini karena kata itu berhubungan dengan civis (penduduk) dan civitas (kota). Sedangkan menurut Arnold Toynbee dalam buku The Disintegrations of Civilization (1965), peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.

Istilah peradaban, menurut Koentjaraningrat, dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu kebudayaan mencapai puncak perkembangannya, unsur-unsur budaya bersifat halus, indah, tinggi, sopan dan luhur. Empat wujud dan contoh peradaban itu adalah moral, norma, etika dan estetik.

Mencerdaskan anak bangsa, sebagai tugas utama guru, harus beraras kepada penguatan akal budi dalam mewujudkan proyek pembangunan nasional. Terkait dengan hal ini, pendidikan tidak bisa menafikan peran penting dari buku. Buku bukan sekadar bacaan atau media untuk dibaca. Buku juga bukan sekadar kumpulan kertas yang disusun hingga berhalaman banyaknya.

Baca Juga: 20 Link Twibbon Unik dan Estetik untuk Hari Guru Nasional 25 November: Bikin Fotomu Makin Cantik!

Buku adalah wahana pemikiran dituangkan. Buku adalah storage pemikiran dan gagasan bagi penulis sekaligus wahana di mana pembaca bisa mengaksesnya. Buku adalah ruang di mana kegiatan membaca dan menulis berdialektika. Buku adalah manifestasi kebudayaan tertinggi manusia, karena di sanalah aksara dan tanda berkumpul membangun gagasan.

Menulis buku bagi guru sebenarnya bukan hal sulit. Hanya diperlukan kemauan dan langkah konkrit untuk mewujudkannya. Jika ini bisa dilakukan secara kontinyu, menulis akan menjadi sebuah rutinitas yang menyenangkan. Apalagi jika pemerintah daerah memiliki political will yang tinggi untuk memajukan literasi guru dengan melakukan reward and punishment secara nyata di lapangan.

Guru menulis buku sudah waktunya tidak menggunakan pendekatan materi. Tapi lebih kepada sumbangsih bagi pengembangan sains untuk membangun peradaban bangsa. Terutama dalam mencerdaskan anak bangsa sesuai amanat konstitusi negara.***

* Guru SMAN 1 Jombang, Pengurus LTN PWNU Jatim

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X