Buku karya seorang guru seharusnya memiliki beberapa indikator sebagai buku bermutu. Tema yang diusung menarik dan khas. Gaya kepenulisan tidak membosankan bagi para pembaca. Terlebih jika ditampilkan berbagai data dan informasi terkini. Buku itu bukan hasil jiplakan dan banyak direkomendasikan pihak-pihak yang berkompeten. Penerbitnya juga harus terpercaya.
Sumber ide tulisan karya guru bisa berasal dari lingkungan sekolah, terutama yang unik dan menginspirasi. Kebijakan pemerintah, pernyataan tokoh dan berita di media massa yang sedang aktual juga bisa dijadikan bahan awal dalam menulis karya. Kajian terhadap kitab referensi sebagai rujukan (turats) maupun buku teks pelajaran juga dimungkinkan menjadi sumber tulisan bagi guru.
Sebagai penulis yang baik, guru harus menulis berdasar fakta dan bukan hoax serta tidak menjelekkan yang lain (hate speech). Ejaan dan kaidah tulisan juga wajib diperhatikan. Termasuk juga terbuka untuk minta masukan dari ahli atau teman sebaya. Pada tahap awal, dimungkinkan juga menulis berkolaborasi bersama teman-teman guru lainnya, misalnya berbentuk buku antologi. Dan terakhir, tidak menyerah untuk terus berlatih jika karya masih ditolak untuk diterbitkan.
Baca Juga: Puisi Spesial Peringatan Hari Guru Nasional: Ungkapan Rasa Terima Kasih yang Menyentuh Hati
Merawat Peradaban
Peradaban, menurut Gunsu Nurmansyah (2012), merupakan bagian dari kebudayaan. Dia berasal dari bahasa Belanda (bescahaving), bahasa Inggris (civilization), bahasa Jerman (Die Zivilsation) dan bahasa Latin adalah (civilis) yang berarti sipil. Ini karena kata itu berhubungan dengan civis (penduduk) dan civitas (kota). Sedangkan menurut Arnold Toynbee dalam buku The Disintegrations of Civilization (1965), peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.
Istilah peradaban, menurut Koentjaraningrat, dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu kebudayaan mencapai puncak perkembangannya, unsur-unsur budaya bersifat halus, indah, tinggi, sopan dan luhur. Empat wujud dan contoh peradaban itu adalah moral, norma, etika dan estetik.
Mencerdaskan anak bangsa, sebagai tugas utama guru, harus beraras kepada penguatan akal budi dalam mewujudkan proyek pembangunan nasional. Terkait dengan hal ini, pendidikan tidak bisa menafikan peran penting dari buku. Buku bukan sekadar bacaan atau media untuk dibaca. Buku juga bukan sekadar kumpulan kertas yang disusun hingga berhalaman banyaknya.
Baca Juga: 20 Link Twibbon Unik dan Estetik untuk Hari Guru Nasional 25 November: Bikin Fotomu Makin Cantik!
Buku adalah wahana pemikiran dituangkan. Buku adalah storage pemikiran dan gagasan bagi penulis sekaligus wahana di mana pembaca bisa mengaksesnya. Buku adalah ruang di mana kegiatan membaca dan menulis berdialektika. Buku adalah manifestasi kebudayaan tertinggi manusia, karena di sanalah aksara dan tanda berkumpul membangun gagasan.
Menulis buku bagi guru sebenarnya bukan hal sulit. Hanya diperlukan kemauan dan langkah konkrit untuk mewujudkannya. Jika ini bisa dilakukan secara kontinyu, menulis akan menjadi sebuah rutinitas yang menyenangkan. Apalagi jika pemerintah daerah memiliki political will yang tinggi untuk memajukan literasi guru dengan melakukan reward and punishment secara nyata di lapangan.
Guru menulis buku sudah waktunya tidak menggunakan pendekatan materi. Tapi lebih kepada sumbangsih bagi pengembangan sains untuk membangun peradaban bangsa. Terutama dalam mencerdaskan anak bangsa sesuai amanat konstitusi negara.***
* Guru SMAN 1 Jombang, Pengurus LTN PWNU Jatim
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Refleksi Peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2024: Guru sebagai Pembiasa Tradisi Literasi