Minggu, 19 Juli 2026

Kearifan Pesantren dan Kecerobohan Trans7

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Jumat, 17 Oktober 2025 | 18:45 WIB
Mukani (Dok. SketsaNusantara.id)
Mukani (Dok. SketsaNusantara.id)

Sebagai institusi pendidikan, pesantren merupakan lembaga yang pertama dan tertua di Indonesia. Pesantren merupakan basis historis serta akar filosofis pendidikan di Indonesia itu sendiri. Dalam buku Bilik-bilik Pesantren (2010), Prof. Nurcholish Majid menyebut bahwa jika Indonesia tidak dijajah oleh kolonial Belanda, maka yang populer di Indonesia pada masa sekarang bukan Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga dan seterusnya. Namun justru perguruan tinggi yang berbasis pondok pesantren, seperti Universitas Gontor, Universitas Lirboyo, Universitas Tebuireng, Universitas Tambakberas dan sebagainya.

Meminjam analisis Manfred Ziemek dalam opus-nya Pesantren dalam Perubahan Sosial (1986), menegaskan pesantren sebagai embrio utama serta tonggak berdirinya sejarah di Indonesia sampai sekarang. Gus Dur sendiri, dalam buku Menggerakkan Tradisi (2001), menyebutkan bahwa gelombang Islamisasi Nusantara terjadi sebanyak dua kali. Pertama adalah Islamisasi saat zaman pertama Walisongo dan dilanjut dengan segala hal sebagai mengenalkan Islam kepada penduduk hingga level masyarakat bawah melalui pengetahuan. Sehingga fungsi pendidikan dari pesantren bagi Islam Nusantara semakin signifikan.  

Faktor ketahanan (resilience) dari lembaga-lembaga pendidikan di Nusantara juga menarik untuk dicermati. Di Indonesia, menurut Ulil Abshar Abdalla (2021), terdapat dua jenis atau rezim pendidikan, yaitu modern dan tradisional. Pendidikan modern secara formal dibiayai 20% dari APBN, biasanya berada di daerah perkotaan, berbentuk seperti sekolah dan kampus.

Baca Juga: Organisasi, Jalan Keselamatan: Meneguhkan Peran Intelektual Organik di Tengah Krisis Makna Pemuda

Sistem kedua adalah sistem kerakyatan yang berada di daerah pedesaan, seperti pesantren, madrasah, meunasah, dayah, rangkang dan langgar. Namun tidak ada pesantren yang lahir dari patronase negara. Semua berdiri secara independen dari rakyat, dengan bantuan pemerintah yang sangat minim. Kehebatan sistem kedua ini mampu bertahan hingga sekarang dengan kurikulum yang relatif stabil dan mandiri.

Tradisi Literasi

Kasus yang dilakukan Trans7 merupakan cerminan masih dibutuhkannya upaya peningkatan tradisi dunia literasi. Kejelian, akurasi dan klarifikasi, sebagai inti literasi, belum dilakukan secara cermat. Budaya asal comot dari banyak sumber masih mendominasi. Diolah sedemikian rupa “seolah-olah” menjadi konten bermutu.

Kebiasaan ceroboh untuk sekedar copy paste ini menyesakkan dada bagi dunia penyiaran di Indonesia. Meski diklaim bukan sebagai produk jurnalistik, tayangan X-Pose Uncensored di Trans7 itu jelas dibuat secara instant dan sekedar mengejar rating. Kualitas tayangan edukatif tentu ditempatkan di nomer sekian.

Baca Juga: Dari Tragedi Sengkon dan Karta: Menuju Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani Indonesia

Kondisi ini harus diakhiri. Para pihak yang secara sengaja memproduksi tayangan itu tentu harus diberi sanksi sesuai hierarki tanggungjawabnya. Tentu sistem di internal Trans7 sudah memiliki prosedur tersendiri saat kondisi ini terjadi. Termasuk dalam terus melatih sumber dayanya untuk menghasilkan tayangan bermutu.

Sanksi dari pihak eksternal tentu juga harus diberikan sebagai media kontrol-pengawasan terhadap dunia penyiaran. Pihak KPI, Dewan Peras, DPR RI dan aparat penegak hukum tentu akan turun tangan dalam konteks ini. Sehingga ke depan diharapkan kasus yang membuat gaduh jagad Nusantara ini tidak terjadi lagi.

Berbagai upaya itu harus terus dilakukan dalam mendukung dunia pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah maupun pemberdayaan. Pada ujungnya akan meningkatkan peradaban bangsa sebagaimana amanat Undang-undang RI Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Itulah kenapa peringatan hari santri harus terus dikobarkan setiap tanggal 22 Oktober.***

*Pengurus LTN PWNU Jawa Timur, Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk dan alumni Pesantren Salafiyah Seblak Jombang

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X