Minggu, 19 Juli 2026

Merayakan 4 Tahun Promedia dari Kacamata Seorang Ayah, Editor, dan Pejuang Algoritma

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Jumat, 4 Juli 2025 | 18:52 WIB
4 Tahun Promedia, sebuah catatan seorang editor. (Pexels/gravity cut)
4 Tahun Promedia, sebuah catatan seorang editor. (Pexels/gravity cut)

Serta, yang paling penting ialah tentang menjaga rumah ini tetap nyaman bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin belajar.

Bersama Para Penulis Lintas Generasi

Di sini, penulis lintas generasi berdatangan. Ada yang baru lulus kuliah, terbiasa menulis status media sosial panjang-panjang, berharap bisa segera menghasilkan dari menulis.

Ada yang sudah lama menulis di blog atau bahkan kerap menerbitkan buku, tapi gagap ketika diminta memperhatikan SEO.

Ada pula yang cepat tersinggung saat tulisannya dikoreksi, lalu menuding sistemnya yang salah, bukan dirinya yang malas membaca.

Tantangan terbesar bukan hanya pada teknis. Bukan cuma soal menyusun headline yang memikat atau memilih keyword yang tepat.

Tantangan sejatinya ada pada cara membimbing mereka untuk membaca dulu sebelum menulis. Membaca aturan main. Membaca data. Membaca tanda-tanda zaman.

Sebab, banyak yang ingin menulis, tetapi sedikit yang mau belajar membaca.

Menaklukkan Algoritma, Menemani Anak

Sementara itu, di sisi lain layar, algoritma Google terus berubah. Apa yang berhasil minggu lalu, hari ini mungkin sudah tak berlaku lagi.

Seorang editor belajar untuk tidak jatuh cinta pada satu strategi. Belajar untuk lentur. Mencoba lagi, membaca, menganalisis, lagi, lagi, dan lagi.

Dan semua itu dilakukan sambil tetap menjadi ayah. Sambil menemani anak belajar berjalan, bermain, bernyanyi, dan kini menjawab celotehan-celotehan pertanyaan darinya.

Salah satunya, kenapa ayahnya tiap hari hanya duduk depan laptop di kamar? Kenapa ayah tidak bekerja di kantor seperti itu?

Lalu ia mundur surut ke belakang tampak ketakutan melihat ekspresi sang ayah yang menahan emosi gara-gara ulah CC yang berulangkali melakukan kesalahan.

Ya, itulah konsekuensi bekerja di rumah. Harus mampu mengelola emosi agar peran sebagai babysitter yang hangat dan sekaligus editor yang garang tidak tertukar.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X