Minggu, 19 Juli 2026

Jawa Timur dalam Cengkeraman Krisis Ekologis, Dari Luka Alam ke Agenda Perubahan

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Kamis, 19 Juni 2025 | 21:00 WIB
Kholisatul Hasanah
Kholisatul Hasanah

Kholisatul Hasanah*

SketsaNusantara.id - Sebagai Calon Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Timur, saya—Kholisatul Hasanah—yakin betul bahwa arah gerakan kita hari ini nggak bisa dilepaskan dari realitas yang dihadapi masyarakat secara langsung.

Terutama soal isu lingkungan, yang ironisnya malah absen dari pembahasan debat Ketua PKC dan KOPRI Jawa Timur kali ini. Padahal menurut saya, krisis ekologis yang melilit Jawa Timur bukan sekadar bencana alam atau kejadian insidental. Ini hasil dari relasi kuasa yang timpang atas ruang, alam, dan sumber daya.

Dalam konteks ini, dua misi yang saya bawa—terutama poin keempat dan kelima—justru jadi sangat relevan dan mendesak untuk diwujudkan.

Baca Juga: 6 Fakta Love Scamming yang Menimpa Staff Media Prabowo, Kani Dwi Kena Tipu 48 Juta Bermula dari Titip Salam hingga Dicibir Gegara Dukung Praktik Ordal

Keduanya saya siapkan sebagai platform gerakan KOPRI yang advokatif, solutif, dan tentu saja berbasis kualitas kader di setiap zona. Maka dari lubuk hati yang paling dalam, saya cukup menyayangkan kenapa isu lingkungan tidak menjadi bagian dari perbincangan debat Sabtu esok.

Misi keempat saya adalah tentang repowering peran KOPRI sebagai mitra kritis yang solutif dan kontributif. KOPRI nggak cukup hanya jadi corong suara. Kita harus bisa hadir sebagai kekuatan analisis, pendorong kebijakan, dan penyambung lidah masyarakat terdampak. Sedangkan misi kelima bicara soal konsolidasi kolektif berbasis zonasi dan manajemen. Intinya, penting ada koneksi antarwilayah, kualitas kader yang merata, dan pendampingan berkelanjutan terhadap isu-isu lokal—tentu dengan pendekatan kearifan lokal.

Dalam bingkai inilah, tujuh wilayah krisis ekologis yang pernah dirilis WALHI Jawa Timur menurut saya menjadi medan strategis untuk KOPRI turun tangan. Dikarenakan coattail effect kerusakan lingkungan bukan hanya berdampak kepada laki-laki, melainkan perempuan, maka dari itu saya ingin KOPRI tidak cuma jadi penonton, tapi benar-benar terlibat sebagai penggerak.

Baca Juga: Tambah Daftar Publik Figur yang Duduki Posisi Stategis Kursi BUMN, Ini Tugas dan Wewenang Yovie Widianto Sebagai Dewan Komisaris PT Pupuk Indonesia

Krisis ekologis di Jawa Timur ini bukan sekadar ancaman lingkungan yang biasa-biasa saja. Ini krisis sistemik—dampak dari tata kelola ruang dan sumber daya alam yang timpang, berwatak kapitalistik, dan seringkali malah melemahkan posisi rakyat di tanahnya sendiri. Di banyak tempat, warga bukan cuma kehilangan sawah atau air, tapi juga hak dasar mereka untuk hidup di lingkungan yang sehat dan adil.

Sebagai kader perempuan PMII dan kebetulan juga sebagai calon Ketua KOPRI PKC Jawa Timur, saya merasa inilah panggilan yang mempertegas urgensi dua misi tadi. Kita nggak bisa cuma diam dan jadi saksi atas derita rakyat. KOPRI menjadi bagian dari solusi, dari perubahan, dari suara-suara yang nggak mau tunduk pada ketimpangan dan kepentingan elit.

Tulisan ini adalah bentuk artikulasi dari dua misi besar tersebut. Saya rumuskan dengan membaca dan merenungi kondisi di tujuh wilayah krisis ekologis yang dilaporkan WALHI Jawa Timur. Setiap wilayah menyimpan cerita luka yang mendalam. Tapi di saat yang sama, ada potensi besar untuk lahirnya gerakan perubahan—gerakan yang bisa dimotori oleh kader-kader perempuan progresif, khususnya dari KOPRI itu sendiri.

Baca Juga: Usai Jabat Stafsus Presiden, Yovie Widianto Didapuk Sebagai Komisaris PT Pupuk Indonesia, Denny Siregar: Pupuknya Mau Dinyanyiin?

Surabaya Raya: Kota yang Menyingkirkan Alam dari Jantung Kehidupan

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jangan Biarkan Kota Santri Kehilangan Jati Diri

Jumat, 26 Juni 2026 | 09:40 WIB

Sistem Keulamaan dan Ahwa Permanen dalam NU

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:49 WIB

Refleksi Hardiknas 2026: Pendidikan dan Buku

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:35 WIB

Menimbang Dampak AI pada Nalar Generasi Bangsa

Kamis, 30 April 2026 | 12:05 WIB

Guru Pejuang Literasi

Selasa, 7 April 2026 | 10:35 WIB

Ketika Inklusi Berubah Menjadi Eksploitasi

Selasa, 24 Maret 2026 | 14:35 WIB

Idul Fitri dan Momentum Transformasi Digital UMKM

Kamis, 19 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gus Dur, Cina dan Islam

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:25 WIB
X