يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu."
Namun, jika pemimpin memerintahkan perbuatan maksiat, maka tidak ada lagi kewajiban mendengar dan taat kepada mereka.
Hal itu sesuai dengan hadis sebagai berikut:
وَرَوَى هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: { سَيَلِيكُمْ بَعْدِي وُلَاةٌ فَيَلِيكُمْ الْبَرُّ بِبِرِّهِ ، وَيَلِيكُمْ الْفَاجِرُ بِفُجُورِهِ ، فَاسْمَعُوا لَهُمْ وَأَطِيعُوا فِي كُلِّ مَا وَافَقَ الْحَقَّ ، فَإِنْ أَحْسَنُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ ، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ
Artinya: "Sepeninggalku nanti ada pemimpin-pemimpin yang akan memimpin kalian, pemimpin yang baik akan memimpin dengan kebaikannya dan pemimpin yang fajir akan memimpin kalian dengan kefajirannya. Maka dengarlah dan taatilah mereka pada perkara-perkara yang sesuai dengan kebenaran saja. Apabila mereka berbuat baik maka kebaikannya adalah bagimu dan untuk mereka, jika mereka berbuat buruk maka bagimu (untuk tetap berbuat baik) dan bagi mereka (keburukan mereka)." (HR Bukhari Muslim)
Hal paling utama atau terbaik tentu saja adalah mendengar dan menaati pemimpin.
Hindarilah kekacauan apalagi pertumpahan darah akibat pemberontakan terhadap penguasa.
Tentu saja tetap wajib hukumnya untuk amar ma'ruf nahi munkar, tetapi mesti dilakukan berdasarkan syariat yang mulia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Cara agar Tidak Malas Menurut Ajaran Islam, Fahruddin Faiz: Percuma jika Punya Cita-Cita...
Fahruddin Faiz Jelaskan Kewajiban di Zaman Medsos yang Jarang Disadari Banyak Orang
Cara Menjadi Orang yang Bijaksana Menurut Fahruddin Faiz
Khutbah Jumat NU Jelang Pelantikan Presiden 20 Oktober 2024: Membangun Perdamaian di Tahun Politik
Khutbah Jumat NU Hari Santri Nasional 2024: Pentingnya Mengingat Sejarah Jihad Mengusir Kolonialisme di Nusantara