SketsaNusantara.id - Pertunjukan wayang kulit merupakan salah satu warisan penting dari dakwah Wali Songo di Nusantara, khususnya Sunan Kalijaga.
Di zaman sekarang, wayang kulit menempati status sebagai karya seni budaya, khususnya bagi masyarakat di Jawa dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Berbagai lakon atau cerita yang dibawakan dalam sebuah pagelaran wayang kulit memiliki banyak pesan moral yang mendalam.
Selain itu, ada keunikan yang khas dari setiap dalang yang membawakan lakon wayang kulit.
Menariknya, istilah wayang ternyata merupakan akronim alias singkatan yang benar-benar menegaskan kedudukannya sebagai alat dakwah pamungkas di era Wali Songo.
Artinya, penggunaan istilah wayang tentunya tidak sembarangan.
Baca Juga: Asal Usul Istilah Dalang dalam Wayang Kulit, Salah Satu Warisan Budaya yang Telah Diakui UNESCO
Jika melihat definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wayang adalah boneka tiruan manusia atau makhluk hidup yang dibuat dari kulit sapi/kambing atau kayu.
Tiruan tersebut digunakan sebagai karakter atau penokohan dalam sebuah pertunjukan dan dimainkan seorang dalang.
Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa wayang sebenarnya adalah singkatan dari "wajib sembahyang" alias "wajib sholat" bagi penganut ajaran Islam.
Baca Juga: Arti Blencong dalam Pagelaran Wayang Kulit, Jadi Salah Satu Komponen yang Penting dan Wajib
Hal itu disampaikan oleh Kyai Achmad Chalwani dalam sebuah video yang diunggah kanal Youtube Arab Digarap pada 28 Agustus 2022.
Artikel Terkait
Wayang Kulit Bukan Syirik! Ada Dalil Kuat dari Al Quran yang Jadi Pedoman Sunan Kalijaga
7 Hal yang Membuat Wayang Kulit Jadi Puncak Budaya Jawa Adiluhung, Bukan Sekadar Seni Pertunjukan
Kenapa Mata Wayang Kulit seperti Arjuna Bentuknya Sipit? Ada Ajaran Islam yang Sangat Kuat terkait Hawa Nafsu
Desa Wayang Kulit di Jawa Tengah, Ada Ciri Khas dari Kulit yang Digunakan
Bukan karena Kulitnya, Warna Hitam pada Karakter Wayang Punya Makna Islami yang Kuat