SketsaNusantara.id - Seikerei, adalah salah satu budaya yang dibawa Jepang saat menjajah Indonesia.
Rakyat Indonesia saat itu harus melakukan Seikerei yang tak lain adalah penghormatan kepada dewa Matahari dengan membungkukkan badan.
Hal ini tentu saja ditentang oleh banyak rakyat Indonesia, termasuk dari kalangan ulama.
Apalagi posisi Seikerei menyerupai posisi rukuk saat sedang sholat.
Penolakan bahkan sempat ditunjukkan oleh para ulama langsung di hadapan para pembesar Jepang.
Salah satunya oleh Abdul Karim Amrullah, ayah dari ulama sekaligus sastrawan asal Sumatera Barat yang dikenal dengan nama Buya Hamka.
Saat itu, Abdul Karim Amrullah menghadiri sebuah pertemuan di Bandung.
Saat pembesar Jepang memasuki ruangan, diadakanlah proses Seikerei.
Namun Ayah Buya Hamka menolak hingga menimbulkan ketegangan.
Namun setelah dijelaskan bahwa menurut ajaran Islam rukuk hanya semata-mata kepada Allah, akhirnya muslim di Indonesia boleh untuk tidak melakukan Seikerei.
Artikel Terkait
Tak Dapat Pengawalan! Ini Alasan Presiden Soekarno Dikawal Yakuza saat Berkunjung ke Jepang
Profil Gus Maksum Lirboyo, Kyai Ahli Bela Diri dari Kediri, Pendiri Organisasi Pencak Silat NU yang Punya Kesaktian...
Kontroversi Kerja Paksa Romusha Zaman Penjajahan, Ternyata Ini Negosiasi Soekarno dengan Pemerintah Jepang
Sejarah GP Ansor, Digagas KH Wahab Chasbullah hingga 'Lahir' di Banyuwangi, Gabungan 3 Organisasi Kepemudaan NU?
Biografi Mahbub Djunaidi, Tokoh NU dengan Julukan Sang Pendekar Pena, Benarkah Menjadi Ketua Umum PMII yang Pertama?
Siapa Pendiri Banser NU? Inilah Muhammad Zainudin Kayubi, Komandan Pertama Banser yang Ikut Memberantas PKI di Blitar
13 Tokoh NU Pendiri PMII Selain KH Chalid Mawardi, Ada Anak Ulama Asal Malang yang Jarang Disebut, Siapa?
Sejarah PMII, Organisasi Kemahasiswaan yang Didirikan oleh KH Chalid Mawardi dan 13 Tokoh NU, Ini Alasan Berdirinya
Mengenal Seikerei zaman Penjajahan Jepang, Budaya Negeri Matahari yang Ditentang Para Kyai hingga KH Hasyim Asy'ari