Ketauhidan seorang muslim wajib dijaga dengan simbol banyaknya monyet yang berada di pohon tersebut.
"Seperti yang Allah firmankan, tauhid itu layaknya pohon yang menjulang tinggi ke langit. Dan supaya menjaga itu harus dihiasi dengan lulut ing petung, maksudnya muhasabah," kata Ustadz Faizar.
Ustadz Faizar juga mengutip ucapan dari Sayyina Umar tentang pentingnya bermuhasabah.
"Kata Umar bin Khattab RA, hisablah diri kalian sendiri sebelum dihisab oleh Allah ta'ala," lanjutnya.
Dengan bermusahabah, niscaya Allah SWT akan membukakan bashiroh atau mata hati manusia, sehingga bisa melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Yang menarik lagi dari Gunungan adalah ketika dibalik, gambar yang terlihat adalah sosok setan dengan api yang menggambarkan api neraka.
Maknanya adalah ketika sisi Gunungan yang menggambarkan ketauhidan tadi dibalik sisinya, maka celakalah manusia.
Penggambaran simbol-simbol tersebut semakin menegaskan kecanggihan dakwah Islam Wali Songo yang memanfaatkan wayang kulit sebagai medianya.***
Artikel Terkait
Benarkah Wayang Kulit Sengaja Dibuat Sebagai Warisan Wali Songo? Sempat Jadi Kontroversi, Begini Sejarah Wayang Kulit Sunan Kalijaga
Peninggalan Sunan Kalijaga: Wayang Kulit Sebagai Warisan Budaya Keilmuan Abadi dan Kisah Seorang Wali yang Pernah Jadi Perampok
Asal Usul 6 Julukan Sunan Kalijaga, Wali Songo yang Berdakwah Lewat Wayang, Ada Nama Panggung Saat Jadi Dalang!
Cara Unik Sunan Kalijaga Berdakwah dengan Wayang dari Majapahit hingga Pajajaran, Penonton Disuruh...
Revolusi Wayang: Ide Jenius Sunan Kalijaga hingga Islam Menyebar Luas di Jawa, Dulu Hiburan Kaum Bangsawan