Kamis, 4 Juni 2026

Asal-usul Beduk di Masjid, Ternyata Bukan Alat Pemanggil untuk Sholat dan KH Hasyim Asy'ari Pernah Tidak Menyetujuinya

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 11 Juli 2024 | 06:15 WIB
Sejarah beduk jadi alat penanda waktu sholat di Nusantara. (purworejokab.go.id)
Sejarah beduk jadi alat penanda waktu sholat di Nusantara. (purworejokab.go.id)

Menariknya, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari ternyata pernah berselisih pendapat tentang penggunaan bedhug dan kentongan.

Hal itu dituturkan oleh KH Zamzani Amin dari Cirebon yang memaparkan perbedaan pendapat antara KH Hasyim Asy'ari dan KH Faqih Maskumambang.

Dilansir dari NU.or.id, penggunaan bedhug tidak diperbolehkan menurut KH Hasyim Asy'ari. Sedangkan KH Faqih Maskumambang justru berpendapat sebaliknya.

Uniknya, meski berbeda pendapat, kedua tokoh itu saling menghargai. Misalnya, ketika KH Hasyim Asy'ari berkunjung ke tempat KH Faqih Maskumambang, bedhug dan kentongan dipindahkan dulu dari mushola.

Sebaliknya, saat KH Faqih Maskumambang berkunjung ke Jombang, KH Hasyim Asy'ari telah mempersiapkan bedhug dan kentongan di musholanya.

Sampai akhirnya kedua tokoh itu berkunjung ke Cirebon, tempat kediaman KH Jauhar Arifin.

Oleh KH Jauhar Arifin, dijelaskan kepada keduanya bahwa bedhug dan kentongan itu hukumnya dibolehkan. Pasalnya, penggunaan kedua alat itu bukan untuk memanggil orang sholat, melainkan agar orang-orang segera menghentikan pekerjaannya karena waktu beribadah sudah tiba.***

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: nu.or.id, Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Pustaka Iman, Jakarta, 2014

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X