Kamis, 4 Juni 2026

Asal-usul Beduk di Masjid, Ternyata Bukan Alat Pemanggil untuk Sholat dan KH Hasyim Asy'ari Pernah Tidak Menyetujuinya

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 11 Juli 2024 | 06:15 WIB
Sejarah beduk jadi alat penanda waktu sholat di Nusantara. (purworejokab.go.id)
Sejarah beduk jadi alat penanda waktu sholat di Nusantara. (purworejokab.go.id)

SketsaNusantara.id - Bedhug dan kentongan merupakan sepasang alat yang akrab dengan masyarakat Islam di Nusantara, terutama di Pulau Jawa.

Pasalnya, kedua alat tersebut identik sebagai media pemanggil sholat bagi masyarakat sekitar masjid sebelum dikumandangkannya azan.

Bedhug merupakan gendang besar yang biasanya dibuat dari selaput kulit kambing dan sapi. Sedangkan kentongan merupakan alat pukul dari kayu dengan bunyi yang sangat nyaring.

Baca Juga: Docang Legend Ibu Kapsah Cirebon! Inilah Sejarah Kuliner Khas Kesukaan Para Wali Songo, Masih Eksis hingga Kini?

Saat ini kehadiran dua alat tersebut memang sudah nyaris tertelan kemajuan zaman, apalagi dengan teknologi pengeras suara yang makin modern.

Namun, bagi yang mengalami masa kecil di wilayah pedesaan Jawa, terutama di era 90-an, pastinya masih mengalami masa-masa unik dari metode pemanggilan orang untuk berangkat ke masjid itu.

Yang jelas, bedhug bukanlah bagian dari tradisi Islam yang dibawa dari Timur Tengah. Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Atlas Wali Songo (2014), KH Agus Sunyoto menyebut bedhug sebagai usaha "membumikan" Islam.

Baca Juga: Ungkap Rahasia di Balik Julukan Sunan Gresik, Warna Warni Kisah Kakek Bantal Wali Songo yang Penuh Tanda Tanya

Bedhug adalah hasil tradisi keagamaan setempat yang sebelumnya tidak terdapat dalam ajaran Islam.

Di masa dakwah Wali Songo, bedhug dimanfaatkan sebagai hasil adaptasi dari tambur tengara untuk sembahyang di sanggar Kapitayan atau vihara umat Buddha.

Justru penggunaan alat tersebut berhasil menarik perhatian warga untuk segera pergi ke masjid menunaikan ibadah karena metode yang dipakai sangat akrab dengan kepercayaan sebelumnya.

Baca Juga: Nama Asli Sunan Drajat, Wali Songo yang Miliki Banyak Sebutan dan Sebarkan Islam Lewat Pendidikan Akhlak

Bedhug dan kentongan pun menjadi salah satu bukti keberhasilan dakwah Islam di Nusantara secara damai tanpa meninggalkan substansi atau melanggar fikih.

Wajar jika di masa lalu, nyaris setiap masjid atau mushola di wilayah Nusantara memiliki sepasang bedhug dan kentongan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: nu.or.id, Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Pustaka Iman, Jakarta, 2014

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X