Minggu, 12 Juli 2026

4 Seni Gamelan Peninggalan Sunan Kalijaga, Sarat Makna Filosofis Sesuai dengan Suaranya, Untuk Penyebaran Agama Islam

Photo Author
Gogot Cahyo Baskoro, Sketsa Nusantara
- Jumat, 14 Juni 2024 | 14:48 WIB
 4 seni gamelan warisan Sunan kalijaga yang memiliki makna sesuai bunyi yang dihasilkannya. (pixabay.com)
4 seni gamelan warisan Sunan kalijaga yang memiliki makna sesuai bunyi yang dihasilkannya. (pixabay.com)

Bila dipukul, kenong menghasilkan bunyi nong, nong, nong diikuti saron yang berbunyi ning, ning, ning.

Makna filosofis dari bunyi nong, nong, nong dan ning, ning, ning berarti nong kana dan ning kene atau di sana dan di sini.

Baca Juga: 5 Peninggalan Sunan Kalijaga dalam Bentuk Fisik, Masih Terawat Baik Hingga Sekarang!

2. Kempul

Kempul tergolong dalam perangkat gamelan yang ditabuh. Juga termasuk dalam keluarga gong. Kempul digantung sama seperti gongdan termasuk kelompok instrumen keras dari gamelan.

Kempul ini fungsinya menandai aksen-aksen penting dalam sebuah lagu atau gending yang tengah dibawakan.

Dalam mengiringi sebuah lagu atau memaikan gendhing, kempul bisa memainkan nada yang sama dengan nada balungan tapi terkadang mendahului.

Baca Juga: Disebut Sebagai Guru Spiritual Orang Islam Jawa, Sunan Kalijaga, Keturunan Arab, China Ataukah Asli Jawa?

Karena bentuknya yang lebih kecil dari gong, ketika ditabuh, kempul menghasilkan suara yang lebih tinggi.

Bunyi kempul ketika ditabuh adalah pung, pung, pung yang artinya mumpung. Makna filosofisnya adalah mumpung atai senyampang masih ada kesempatan.

3. Kendang 

Kendang atau lazim pula disebut dengan gendang merupakan alat musik yang terbuat dari kayu bulat panjang berbentuk tabung berongga.

Baca Juga: Sering Tidak Punya Uang, Presiden Soekarno Lelang Peci Hitamnya untuk Zakat dan Orang Miskin di Makam Sunan Giri

Kedua lubang berongga tadi kemudian ditutup dengan kulit sapi, kambing ataupun kerbau. Kendang termasuk salah satu bagian terpenting dalam dalam gamelan dan karawitan Jawa.

Meski begitu, banyak yang menyebut kendang sejatinya sudah ada sejak zaman logam prasejarah di Indonesia. Sebelum era Wali Songo menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Halaman:

Editor: Gogot Cahyo Baskoro

Sumber: Berbagai Sumber

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X