Dalam pandangan tersebut, puasa juga dimaknai sebagai tameng dari perilaku menyimpang. Pengendalian diri menjadi kunci agar manusia tidak terjerumus pada tindakan yang melanggar nilai agama.
Mu’ti juga menjelaskan konsep qanaah atau mencukupkan diri. Puasa mengajarkan manusia menahan dorongan untuk memiliki segala sesuatu secara berlebihan, termasuk dalam hal kekuasaan dan harta.
Dalam kajian psikologi, kecenderungan ini disebut sebagai having mood. Dorongan tersebut mendorong manusia mengejar kepuasan melalui kepemilikan, bahkan dengan cara yang melanggar hukum.
Ia mengutip Ali Imran ayat 14 yang menjelaskan kecintaan manusia pada syahwat duniawi. Dalam tafsir Al Muyassar, dijelaskan bahwa dorongan tersebut dapat menjerumuskan manusia pada tindakan batil, seperti mencuri, merampas, menyuap, hingga korupsi.
Dalam konteks inilah, puasa diharapkan membentuk kesadaran yang bersifat ihsan. Kesadaran tersebut membuat manusia merasa selalu diawasi, sehingga menjauhkannya dari perbuatan tercela seperti korupsi.
Puasa Ramadhan, dengan demikian, tidak hanya mengajarkan ketahanan fisik. Ibadah ini juga menanamkan nilai pengendalian diri, kejujuran, dan integritas dalam setiap aspek kehidupan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Sering Dilakukan Diam-Diam saat Puasa, Apakah Mengorek Hidung dan Telinga Benar-Benar Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya
10 Twibbon Edisi Ramadhan 1447 Hijriah, Siap-siap Menujunya Bulan Puasa pada Tahun 2026
Bagaimana Bacaan Doa Berbuka Puasa Ramadhan? Simak Tulisan Arab, Latin, serta Terjemahannya!
Ngaku Puasa tapi Tinggalin Sholat, Apakah Puasanya Tetap Sah? Begini Penjelasan dari Muhammadiyah
Tidak Sahur Sama Sekali, Apakah Puasa Tetap Sah? Ini Penjelasan Lengkap Dalil, Hadis, dan Pendapat Ulama