SketsaNusantara.id - Bulan Ramadhan selalu hadir sebagai momentum ibadah yang penuh makna bagi kaum muslimin.
Ibadah puasa dijalani dengan menahan lapar, dahaga, dan berbagai keinginan sejak terbit hingga terbenam matahari.
Namun, Ramadhan tidak semata dimaknai sebagai rutinitas menahan lapar dan memperbanyak ibadah sunnah.
Baca Juga: Baru dan Gratis! 10 Link Twibbon Ramadhan 2026, Siap Unggah untuk Sambutan Bulan Puasa 1447 Hijriah
Bulan suci ini juga menuntut perubahan sikap, perilaku, dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks itu, pertanyaan tentang hukum orang yang berpuasa tetapi tetap melakukan korupsi menjadi relevan.
Fenomena ini menyoroti kesenjangan antara praktik ibadah dan pengendalian diri yang seharusnya terbangun selama Ramadhan.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya memaknai Ramadhan sebagai bulan transformasi. Menurutnya, puasa seharusnya melahirkan spiritualitas yang konstruktif dan mendorong perubahan nyata.
“Sehingga menjadi puasa dan spiritualitas yang konstruktif, yang membangun. Karena ada fenomena di mana Ramadhan sering menjadi bulan spiritualitas yang fatalistis. Di mana di bulan Ramadhan itu kita sering dibawa pada kehidupan spiritual yang tidak produktif atau tidak menggerakkan kita untuk melakukan perubahan-perubahan yang transformatif,” ujarnya, dikutip dari Muhammadiyah.or.id.
Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa puasa memiliki makna pengendalian diri secara menyeluruh. Puasa dipahami sebagai upaya menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang.
Ia mengutip penjelasan ahli tafsir Al-Maraghi tentang pentingnya kesadaran internal. Setiap individu diharapkan selalu patuh pada perintah Allah dan menyadari bahwa seluruh perbuatannya berada dalam pengawasan-Nya.
Kesadaran tersebut melahirkan kontrol diri yang bersumber dari dalam, bukan karena tekanan eksternal. Dengan kesadaran ini, seseorang tetap menjauhi perbuatan terlarang meski tidak diawasi.
“Karena itu substansi puasa adalah pengendalian diri yang itu berasal dari dalam atau self restrain atau self control. Bukan dari luar. Karena itu ada atau tidaknya orang yang mengontrol kita, maka kita tetap tidak melakukan sesuatu yang dilarang. Dan ada atau tidak ada reward, kita akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya,” kata Mu’ti.
Artikel Terkait
Sering Dilakukan Diam-Diam saat Puasa, Apakah Mengorek Hidung dan Telinga Benar-Benar Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya
10 Twibbon Edisi Ramadhan 1447 Hijriah, Siap-siap Menujunya Bulan Puasa pada Tahun 2026
Bagaimana Bacaan Doa Berbuka Puasa Ramadhan? Simak Tulisan Arab, Latin, serta Terjemahannya!
Ngaku Puasa tapi Tinggalin Sholat, Apakah Puasanya Tetap Sah? Begini Penjelasan dari Muhammadiyah
Tidak Sahur Sama Sekali, Apakah Puasa Tetap Sah? Ini Penjelasan Lengkap Dalil, Hadis, dan Pendapat Ulama