Minggu, 19 Juli 2026

Puasa tapi Korupsi? Bagaimana Hukumnya dalam Islam dan Mengapa Ramadan Seharusnya Mengubah Cara Pandang terhadap Harta dan Kekuasaan

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 10 Februari 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi orang yang korupso di bulan Ramadhan. (Pexels/Tima Miroshnichenko)
Ilustrasi orang yang korupso di bulan Ramadhan. (Pexels/Tima Miroshnichenko)

SketsaNusantara.id - Bulan Ramadhan selalu hadir sebagai momentum ibadah yang penuh makna bagi kaum muslimin.

Ibadah puasa dijalani dengan menahan lapar, dahaga, dan berbagai keinginan sejak terbit hingga terbenam matahari.

Namun, Ramadhan tidak semata dimaknai sebagai rutinitas menahan lapar dan memperbanyak ibadah sunnah.

Baca Juga: Baru dan Gratis! 10 Link Twibbon Ramadhan 2026, Siap Unggah untuk Sambutan Bulan Puasa 1447 Hijriah

Bulan suci ini juga menuntut perubahan sikap, perilaku, dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks itu, pertanyaan tentang hukum orang yang berpuasa tetapi tetap melakukan korupsi menjadi relevan.

Fenomena ini menyoroti kesenjangan antara praktik ibadah dan pengendalian diri yang seharusnya terbangun selama Ramadhan.

Baca Juga: Download Gratis 10 Link Twibbon Cantik untuk Menyambut Ramadhan 1447 Hijriyah, Membuat Puasa Semakin Semarak

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya memaknai Ramadhan sebagai bulan transformasi. Menurutnya, puasa seharusnya melahirkan spiritualitas yang konstruktif dan mendorong perubahan nyata.

“Sehingga menjadi puasa dan spiritualitas yang konstruktif, yang membangun. Karena ada fenomena di mana Ramadhan sering menjadi bulan spiritualitas yang fatalistis. Di mana di bulan Ramadhan itu kita sering dibawa pada kehidupan spiritual yang tidak produktif atau tidak menggerakkan kita untuk melakukan perubahan-perubahan yang transformatif,” ujarnya, dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa puasa memiliki makna pengendalian diri secara menyeluruh. Puasa dipahami sebagai upaya menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang.

Ia mengutip penjelasan ahli tafsir Al-Maraghi tentang pentingnya kesadaran internal. Setiap individu diharapkan selalu patuh pada perintah Allah dan menyadari bahwa seluruh perbuatannya berada dalam pengawasan-Nya.

Kesadaran tersebut melahirkan kontrol diri yang bersumber dari dalam, bukan karena tekanan eksternal. Dengan kesadaran ini, seseorang tetap menjauhi perbuatan terlarang meski tidak diawasi.

“Karena itu substansi puasa adalah pengendalian diri yang itu berasal dari dalam atau self restrain atau self control. Bukan dari luar. Karena itu ada atau tidaknya orang yang mengontrol kita, maka kita tetap tidak melakukan sesuatu yang dilarang. Dan ada atau tidak ada reward, kita akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya,” kata Mu’ti.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X