Dalam literatur klasik, ulama menjelaskan larangan bergaul dengan pihak merugikan.
Orang yang gemar menggunjing dan berbuat kebatilan disebut membawa mudarat. Pandangan ini relevan dengan definisi pertemanan toxic saat ini.
Al Quran juga mengingatkan penyesalan akibat salah memilih teman. Penyesalan tersebut digambarkan sebagai akibat mengikuti pergaulan menyesatkan. Pesan ini menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam relasi sosial.
Tradisi NU menekankan sikap menjaga diri tanpa memutus nilai kemanusiaan. Menghindari dampak buruk pertemanan dilakukan dengan cara yang beradab. Prinsip ini bertujuan menjaga keseimbangan sosial dan spiritual.
Dengan merujuk ajaran Islam, sikap selektif dalam pertemanan menjadi kebutuhan.
Lingkungan kerja yang sehat pun membantu menjaga stabilitas emosional.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Mengenal KH Adlan Aly, Ulama Hafiz Qur'an dan Pendiri Pesantren Putri Pertama di Cukir Jombang
Larangan Tegas terhadap Perbuatan Syirik, Primbon Ajaran Sunan Bonang Dianggap Kunci Memahami Islam Wali Songo
Kultum 7 Menit Menyambut Ramadhan 2026:Mengingat Makna Puasa dan Persiapan Ibadah
Sya'ban, Bulan Ruwah Menurut Tradisi Jawa yang Berarti Ngruwat Arwah
Ijazah Abah Guru Sekumpul holawat 10.000 Kali agar Menjadi Murid Rasulullah