SketsaNusantara.id - Fenomena pertemanan toxic semakin sering dirasakan di lingkungan kerja modern.
Interaksi profesional kerap tampak normal, namun menyimpan tekanan emosional.
Kondisi ini membuat sebagian pekerja merasa tidak nyaman dan tertekan.
Di tempat kerja, relasi antar karyawan tidak selalu berjalan sehat dan seimbang. Ada hubungan yang justru menimbulkan beban mental dan konflik tersembunyi. Situasi tersebut menuntut sikap bijak dalam menjaga hubungan sosial.
Islam memandang manusia sebagai makhluk sosial yang hidup dalam kebersamaan. Perbedaan karakter diciptakan agar manusia saling mengenal dan memahami. Prinsip ini menjadi dasar penting dalam membangun pertemanan yang sehat.
Dikutip dari NU.or.id, Allah SWT menegaskan tujuan penciptaan manusia untuk saling mengenal.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat ayat 13).
Ayat tersebut menjadi rujukan utama dalam tradisi keislaman Nahdlatul Ulama.
Lingkungan pertemanan dipandang berperan besar membentuk sikap dan perilaku.
Karena itu, memilih pergaulan yang sehat menjadi bagian dari ikhtiar hidup.
Dalam konteks kerja, pertemanan sangat memengaruhi kualitas keseharian seseorang. Hubungan yang tidak sehat dapat berdampak pada kondisi mental dan sosial. Fenomena ini kini dikenal luas sebagai pertemanan toxic.
Islam telah memberi gambaran jelas tentang pengaruh teman dalam kehidupan. Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang kuat terkait pergaulan.
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, ada kalanya penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu mendapatkan aroma wanginya. Sedangkan pandai besi ada kalanya (percikan apinya) akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan aroma tidak sedap darinya.”
(HR. Al-Bukhari).
Hadits tersebut kerap dijadikan rujukan dalam kajian-kajian NU. Pertemanan yang buruk dipahami membawa pengaruh negatif secara perlahan. Dampaknya bisa berupa tekanan batin, kelelahan, dan hilangnya kepercayaan diri.
Artikel Terkait
Mengenal KH Adlan Aly, Ulama Hafiz Qur'an dan Pendiri Pesantren Putri Pertama di Cukir Jombang
Larangan Tegas terhadap Perbuatan Syirik, Primbon Ajaran Sunan Bonang Dianggap Kunci Memahami Islam Wali Songo
Kultum 7 Menit Menyambut Ramadhan 2026:Mengingat Makna Puasa dan Persiapan Ibadah
Sya'ban, Bulan Ruwah Menurut Tradisi Jawa yang Berarti Ngruwat Arwah
Ijazah Abah Guru Sekumpul holawat 10.000 Kali agar Menjadi Murid Rasulullah