SketsaNusantara.id - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, pesan-pesan reflektif kembali mengemuka di ruang publik.
Salah satunya datang dari dai nasional Ustadz Khalid Basalamah yang mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali makna waktu dan urgensi mempersiapkan diri menyambut bulan penuh keberkahan tersebut.
Dilansir SketsaNusantara.id dari sebuah unggahan yang dibagikan melalui akun X (Twitter) @ustadzkhalid, Ustadz Khalid menyampaikan pertanyaan mendalam yang menyentuh kesadaran spiritual umat.
Baca Juga: 2 Jenis Orang yang Tidak Mendapatkan Ampunan Allah saat Malam Nisfu Sya’ban, Siapa? Buya Yahya: Orang yang...
“Pernahkah kita berpikir, mengapa ada waktu tertentu yang begitu berharga di sisi Allah SWT dan sering kita lewatkan begitu saja?” tulisnya.
Pertanyaan tersebut bukan sekadar refleksi, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mengajak umat menilai kembali sikap mereka terhadap waktu, khususnya menjelang Ramadhan.
Unggahan tersebut menyampaikan bahwa bulan Ramadhan merupakan salah satu waktu paling berharga dalam kehidupan seorang Muslim.
“Pernahkah kita berpikir, mengapa ada waktu tertentu yang begitu berharga di sisi Allah SWT dan sering kita lewatkan begitu saja?” tulisnya.
Pertanyaan tersebut bukan sekadar refleksi, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mengajak umat menilai kembali sikap mereka terhadap waktu, khususnya menjelang Ramadhan.
Unggahan tersebut menyampaikan bahwa bulan Ramadhan merupakan salah satu waktu paling berharga dalam kehidupan seorang Muslim.
Baca Juga: Hukum Pembagian Harta Warisan, Apakah Ibu Tiri Juga Dapat Bagian? Buya Yahya: di Hadapan Allah Dia...
“Bulan Ramadhan adalah salah satu waktu paling mahal dalam kehidupan seorang muslim. Ia bukan sekadar bulan ibadah, tapi bulan pilihan yang Allah SWT tetapkan untuk dilipatgandakannya pahala,” demikian keterangan pada uggahan tersebut.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Ramadhan memiliki posisi istimewa dalam kalender spiritual umat Islam.
Lebih jauh, Ustadz Khalid menekankan pentingnya persiapan yang serius dan tidak tergesa-gesa dalam menyambut Ramadhan. Menurutnya, kualitas ibadah seseorang sangat dipengaruhi oleh sejauh mana ia mempersiapkan diri.
“Bulan Ramadhan adalah salah satu waktu paling mahal dalam kehidupan seorang muslim. Ia bukan sekadar bulan ibadah, tapi bulan pilihan yang Allah SWT tetapkan untuk dilipatgandakannya pahala,” demikian keterangan pada uggahan tersebut.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Ramadhan memiliki posisi istimewa dalam kalender spiritual umat Islam.
Lebih jauh, Ustadz Khalid menekankan pentingnya persiapan yang serius dan tidak tergesa-gesa dalam menyambut Ramadhan. Menurutnya, kualitas ibadah seseorang sangat dipengaruhi oleh sejauh mana ia mempersiapkan diri.
Baca Juga: 3 Amalan Utama Menuju Bulan Suci Ramadhan dan Doa Penting Menyambut Puasa dari Ustaz Adi Hidayat
“Karena itu, persiapan menyambut Ramadhan tidak seharusnya dilakukan secara mendadak. Orang yang mempersiapkan diri jauh hari tentu akan berbeda semangat dan kualitas ibadahnya dengan orang yang baru bersiap di saat-saat terakhir,” ungkapnya.
Pesan tersebut mengandung makna bahwa Ramadhan bukan hanya momentum tahunan yang datang lalu berlalu, tetapi proyek spiritual besar yang memerlukan perencanaan.
Ustadz Khalid bahkan mengibaratkan persiapan Ramadhan seperti sebuah rencana besar dalam kehidupan.
“Seperti sebuah rencana besar, ketika dipersiapkan dengan matang, semuanya akan terasa lebih ringan dan terarah,” ungkapnya.
Analogi ini menegaskan bahwa ibadah pun membutuhkan manajemen diri, kesungguhan niat, dan kesiapan mental.
Dalam kajian tersebut, juga ditegaskan konsep bahwa Allah SWT memiliki hak mutlak dalam memilih dan memuliakan waktu, tempat, serta hamba-hamba-Nya.
“Allah SWT memiliki hak penuh untuk memilih dan mengatur. Allah SWT memilih para malaikat, para nabi, tempat-tempat mulia, hari-hari istimewa, dan juga bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya,” tulisnya.
Pernyataan ini mengajak umat Islam untuk memahami bahwa kemuliaan Ramadhan bukan sekadar tradisi, melainkan ketetapan ilahiah yang harus disikapi dengan kesungguhan.
Ustadz Khalid kemudian mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang hamba adalah memaksimalkan peluang yang telah Allah pilihkan.
“Tinggal bagaimana kita sebagai hamba memaksimalkan apa yang telah Allah SWT pilihkan untuk kita, agar waktu yang agung ini benar-benar bernilai di sisi-Nya,” lanjutnya.
Pesan ini menjadi penegasan bahwa Ramadhan yang bernilai bukan hanya ditentukan oleh datangnya bulan tersebut, tetapi oleh keseriusan umat dalam mengisinya dengan amal terbaik.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Ustadz Khalid juga mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an.
Disebutkan ayat yang sangat dikenal tentang keutamaan Ramadhan:
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS Al-Baqarah [2]: 185).
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya bulan puasa, tetapi juga bulan turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Selain Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW juga dikutip untuk memperkuat motivasi beribadah di bulan suci.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).
Hadis ini menegaskan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan besar untuk meraih ampunan dan memperbaiki diri.
Pesan-pesan yang disampaikan Ustadz Khalid tersebut sejatinya menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi momentum transformasi spiritual.
Di tengah kesibukan dunia modern, banyak orang yang tanpa sadar melewati hari-hari Ramadhan tanpa makna mendalam. Padahal, jika disiapkan sejak jauh hari, Ramadhan dapat menjadi titik balik perubahan hidup seorang Muslim.
Seruan untuk mempersiapkan diri juga relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, di mana godaan distraksi semakin besar, waktu terasa semakin sempit, dan kualitas kekhusyukan semakin menantang untuk dijaga.
Pesan reflektif seperti ini menjadi penting agar umat kembali menempatkan Ramadhan sebagai pusat perbaikan iman, bukan sekadar rutinitas sosial.***
“Karena itu, persiapan menyambut Ramadhan tidak seharusnya dilakukan secara mendadak. Orang yang mempersiapkan diri jauh hari tentu akan berbeda semangat dan kualitas ibadahnya dengan orang yang baru bersiap di saat-saat terakhir,” ungkapnya.
Pesan tersebut mengandung makna bahwa Ramadhan bukan hanya momentum tahunan yang datang lalu berlalu, tetapi proyek spiritual besar yang memerlukan perencanaan.
Ustadz Khalid bahkan mengibaratkan persiapan Ramadhan seperti sebuah rencana besar dalam kehidupan.
“Seperti sebuah rencana besar, ketika dipersiapkan dengan matang, semuanya akan terasa lebih ringan dan terarah,” ungkapnya.
Analogi ini menegaskan bahwa ibadah pun membutuhkan manajemen diri, kesungguhan niat, dan kesiapan mental.
Dalam kajian tersebut, juga ditegaskan konsep bahwa Allah SWT memiliki hak mutlak dalam memilih dan memuliakan waktu, tempat, serta hamba-hamba-Nya.
“Allah SWT memiliki hak penuh untuk memilih dan mengatur. Allah SWT memilih para malaikat, para nabi, tempat-tempat mulia, hari-hari istimewa, dan juga bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya,” tulisnya.
Pernyataan ini mengajak umat Islam untuk memahami bahwa kemuliaan Ramadhan bukan sekadar tradisi, melainkan ketetapan ilahiah yang harus disikapi dengan kesungguhan.
Ustadz Khalid kemudian mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang hamba adalah memaksimalkan peluang yang telah Allah pilihkan.
“Tinggal bagaimana kita sebagai hamba memaksimalkan apa yang telah Allah SWT pilihkan untuk kita, agar waktu yang agung ini benar-benar bernilai di sisi-Nya,” lanjutnya.
Pesan ini menjadi penegasan bahwa Ramadhan yang bernilai bukan hanya ditentukan oleh datangnya bulan tersebut, tetapi oleh keseriusan umat dalam mengisinya dengan amal terbaik.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Ustadz Khalid juga mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an.
Disebutkan ayat yang sangat dikenal tentang keutamaan Ramadhan:
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS Al-Baqarah [2]: 185).
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya bulan puasa, tetapi juga bulan turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Selain Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW juga dikutip untuk memperkuat motivasi beribadah di bulan suci.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).
Hadis ini menegaskan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan besar untuk meraih ampunan dan memperbaiki diri.
Pesan-pesan yang disampaikan Ustadz Khalid tersebut sejatinya menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi momentum transformasi spiritual.
Di tengah kesibukan dunia modern, banyak orang yang tanpa sadar melewati hari-hari Ramadhan tanpa makna mendalam. Padahal, jika disiapkan sejak jauh hari, Ramadhan dapat menjadi titik balik perubahan hidup seorang Muslim.
Seruan untuk mempersiapkan diri juga relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, di mana godaan distraksi semakin besar, waktu terasa semakin sempit, dan kualitas kekhusyukan semakin menantang untuk dijaga.
Pesan reflektif seperti ini menjadi penting agar umat kembali menempatkan Ramadhan sebagai pusat perbaikan iman, bukan sekadar rutinitas sosial.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Mengenal KH Adlan Aly, Ulama Hafiz Qur'an dan Pendiri Pesantren Putri Pertama di Cukir Jombang
Mengenang KH Achmad Siddiq, Sosok Rais Aam PBNU Pencetus Dzikrul Ghofilin dari Jember
Nisfu Syaban 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Berikut Amalan yang Bisa Dilakukan Pada Bulan Syaban Menurut Buya Yahya
Larangan Tegas terhadap Perbuatan Syirik, Primbon Ajaran Sunan Bonang Dianggap Kunci Memahami Islam Wali Songo
Kultum 7 Menit Menyambut Ramadhan 2026:Mengingat Makna Puasa dan Persiapan Ibadah
Sya'ban, Bulan Ruwah Menurut Tradisi Jawa yang Berarti Ngruwat Arwah