Kamis, 4 Juni 2026

Buya Yahya Sindir Pandangan Keliru soal Santri Bersimpuh di Depan Guru: 'Kalau dengan Benci, yang Baik pun Jadi Buruk'

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:30 WIB
Ilustrasi, Buya Yahya mengomentari perdebatan tuduhan feodalisme di lingkungan pesantren. (Freepik.com/rawpixel.com)
Ilustrasi, Buya Yahya mengomentari perdebatan tuduhan feodalisme di lingkungan pesantren. (Freepik.com/rawpixel.com)

Santri diajarkan untuk menghormati ilmu dan orang yang mengajarkannya. Dalam konteks tersebut, bersimpuh bukanlah bentuk kehinaan, melainkan simbol kesungguhan dalam menghargai ilmu.

Namun, Buya Yahya juga mengingatkan agar sikap hormat tidak ditafsirkan secara buta. Seseorang yang memuliakan gurunya tidak boleh menutup mata terhadap kebenaran.

Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara cinta dan objektivitas dalam memandang sesuatu. Melalui penjelasan itu, Buya Yahya seolah ingin mengingatkan bahwa standar moral dan budaya tidak bisa dilepaskan dari konteks niat dan nilai yang melatarinya.

Dalam dunia pesantren, hubungan antara santri dan guru dibangun di atas dasar ilmu, adab, dan kasih sayang.

Sementara itu, munculnya anggapan bahwa santri bersimpuh adalah bentuk perbudakan dinilai terlalu menyederhanakan realitas sosial pesantren.

Dalam banyak tradisi Islam, tindakan menundukkan kepala di hadapan guru dianggap sebagai bentuk penghormatan, bukan penyerahan diri.

Buya Yahya menambahkan, cara pandang yang keliru sering kali lahir dari hati yang dipenuhi kebencian. Ia mencontohkan seseorang yang menilai buruk ustaz karena tidak menyukainya, namun bersikap sebaliknya ketika berhadapan dengan orang yang disukainya, meski dengan sikap yang sama.

Penjelasan Buya Yahya menjadi pengingat agar masyarakat berhati-hati dalam menilai sikap keagamaan orang lain. Menurutnya, kebencian pribadi sering kali menjadi akar dari kesalahpahaman yang berujung pada fitnah.

Pandangan tersebut menutup ruang bagi generalisasi yang kerap muncul di era media sosial, ketika setiap tindakan religius kerap ditafsirkan secara politis atau emosional. Sikap tawadhu seorang santri, bagi Buya Yahya, bukanlah simbol perbudakan, melainkan bagian dari laku spiritual untuk menjaga adab terhadap ilmu.

Dengan demikian, perdebatan soal makna santri bersimpuh di depan guru bukan sekadar soal bentuk fisik atau simbolik, melainkan cermin dari cara pandang masyarakat terhadap nilai, kebencian, dan cinta dalam memaknai ajaran agama.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: YouTube Al-Bahjah TV

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X