Akses menuju perumahan ke Sekolah Petra pun benar-benar ditutup oleh warga sejak 15 Mei 2024 yang mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang berdampak pada kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Fakta lain yang mengejutkan publik adalah pihak sekolah mengaku mendapat ancaman. Warga akan mengancam menutup akses jalan ke sekolah apabila iuran keamanan tak kunjung dibayarkan.
Warga pun membantah dan menuduh sekolah Petra mengada-ada karena tidak adanya bukti yang kuat terkait ancaman tersebut.
Baca Juga: KPU Kabupaten Mojokerto Ajak Ratusan Siswa SMK PGRI Sooko jadi Pemilih Cerdas
4. Netizen Menilai Warga Diskriminasi Terhadap Pihak Sekolah Petra
Saat proses mediasi, diketahui pula bahwa sebetulnya ada sekolah lain yang berada di sekitar Manyar yakni SDN Manyar Sabrangan dan SDN Klampis.
Namun warga mengaku tidak mempermasalahkan kedua sekolah tersebut dan tidak menarik iuran keamanan karena dianggap tidak pernah menimbulkan kemacetan lalu lintas lantaran anak didiknya berasal dari "keluarga tak berpunya".
Berbeda dengan murid-murid sekolah Petra yang tiap harinya diantar jemput menggunakan mobil yang menimbulkan masalah kemacetan hingga polusi udara.
Pernyataan ini pun menjadi sorotan publik, bahkan warga dianggap melakukan diskriminasi hingga dinilai mengeruk keuntungan dari sekolah Petra yang notabene dari masyarakat kalangan menengah ke atas.
5. Gagal Mediasi dengan Cak Ji, Perkara Iuran Keamanan Diajukan sampai ke DPRD Surabaya
Meski Wakil Walikota Surabaya, Armuji atau Cak Ji ikut turun tangan jadi mediator, namun masalah ini masih tidak menemukan titik terang.
Pihak sekolah Petra tetap menolak bayar iuran keamanan Rp35 juta hingga perkara ini berlanjut ke DPRD Surabaya.