2. Alasan Warga Ribut dan Protes pada Pihak Sekolah Kristen Petra
Saat mediasi, warga mengungkap alasan soal kenaikan iuran keamanan. Mereka menyebut soal kenaikan iuran keamanan ini untuk gaji 40 satpam dari 4 RW yang berada di wilayah tersebut.
Selain itu, warga juga menyampaikan kekesalan mereka dan protes dengan pihak Sekolah Kristen Petra Surabaya yang tidak mau membayar iuran keamanan padahal masyarakat menerima banyak kerugian.
Beberapa kerugian yang jadi perdebatan adalah masalah AMDAL atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang dinilai tidak sesuai dengan peraturan.
Sekolah tersebut juga dinilai telah menimbulkan kemacetan lalu lintas karena saking banyaknya kendaraan dan mobil yang lalu lalang saat mengantar jemput sekolah setiap harinya yang berdampak pada kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Dua Anggota Pantarlih Meninggal Dunia saat Menjalankan Tugas, KPU Jatim Beri Santunan
Warga pun akhirnya memberlakukan one gate sistem atau satu pintu dengan menutup portal untuk mengurangi masalah kemacetan dan polusi udara.
Penutupan jalan ini pun menjadi perdebatan lantaran warga menutup akses masuk ke sekolah Petra dan merupakan fasilitas umum yang harusnya bisa dilewati semua orang.
3. Petra Bantah Tuduhan hingga Ungkap Adanya Ancaman dan Intimidasi Warga
Pihak Sekolah Kristen Petra menyatakan keberatannya soal iuran dan membantah soal tuduhan AMDAL yang dinilai warga telah melanggar aturan.
Pihak sekolah juga menyebut soal kenaikan iuran keamanan yang dinilai tidak adil dan ditetapkan secara sepihak oleh RW setempat tanpa mengundang Petra terlebih dahulu sejak tahun 2017 hingga 2024.
Selain itu, pihak sekolah juga mempertanyakan soal laporan pertanggungjawaban keuangan yang dinilai tidak transparan dari RW setempat.
Petra pernah mengirimkan surat terkait keberatan kenaikan iuran keamanan tapi tak digubris oleh pihak RW setempat, hingga warga menutup jalan dan memberlakukan one gate system.