Karena itu, Efnie mendorong tenaga kesehatan untuk lebih proaktif menjaga keseimbangan pikiran, tubuh, dan ketenangan batin (mind, body, and soul) agar tidak mengalami kelelahan emosional yang berkepanjangan.
Ia juga menekankan pentingnya praktik self-love sebagai salah satu langkah menjaga kesehatan mental dalam menghadapi tekanan pekerjaan sehari-hari.
Kemenkes: Empati Adalah Bagian dari Profesionalisme
Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turut menyayangkan komentar bernada negatif yang diarahkan kepada Yurizal.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Akui Tunggakan Peserta Melebihi Rp10 Triliun, Pemerintah Bahas Opsi Pemutihan Total
Pihaknya mengimbau seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan untuk selalu mengedepankan empati serta komunikasi yang baik, termasuk ketika berinteraksi di media sosial.
Momentum ini menjadi evaluasi bersama, terlebih sikap bijak dalam bermedia sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme seorang tenaga kesehatan.
Kasus Yurizal Tri Chaerawan kini tidak hanya menjadi pengingat pentingnya empati dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai kesejahteraan mental para tenaga kesehatan yang setiap hari bekerja di bawah tekanan tinggi.
Di satu sisi, pasien yang berada dalam kondisi rentan berhak mendapatkan pelayanan yang manusiawi, dan bebas dari stigma negatif.
Di sisi lain, tenaga kesehatan juga membutuhkan sistem kerja yang mampu menjaga kondisi psikologis mereka agar tetap sehat dan dapat menjalankan profesinya secara profesional.
Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa membangun layanan kesehatan yang berkualitas bukan hanya soal fasilitas dan kompetensi medis, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang memungkinkan empati tumbuh, baik bagi pasien maupun bagi nakes yang bertugas merawatnya.***