Kamis, 6 Agustus 2026

IDI Sebut Hujatan terhadap Pasien BPJS Diduga Dipicu Burnout, Kasus Yurizal Tri Chaerawan Jadi Sorotan Pentingnya Jaga Kesehatan Mental Nakes

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Kamis, 6 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi tenaga kesehatan dengan tekanan kerja yang memicu stress hingga berperilaku nirempati pada pasien (Pexels/Negative Space)
Ilustrasi tenaga kesehatan dengan tekanan kerja yang memicu stress hingga berperilaku nirempati pada pasien (Pexels/Negative Space)

Karena itu, Efnie mendorong tenaga kesehatan untuk lebih proaktif menjaga keseimbangan pikiran, tubuh, dan ketenangan batin (mind, body, and soul) agar tidak mengalami kelelahan emosional yang berkepanjangan.

Ia juga menekankan pentingnya praktik self-love sebagai salah satu langkah menjaga kesehatan mental dalam menghadapi tekanan pekerjaan sehari-hari.

Kemenkes: Empati Adalah Bagian dari Profesionalisme

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turut menyayangkan komentar bernada negatif yang diarahkan kepada Yurizal.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Akui Tunggakan Peserta Melebihi Rp10 Triliun, Pemerintah Bahas Opsi Pemutihan Total

Pihaknya mengimbau seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan untuk selalu mengedepankan empati serta komunikasi yang baik, termasuk ketika berinteraksi di media sosial.

Momentum ini menjadi evaluasi bersama, terlebih sikap bijak dalam bermedia sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme seorang tenaga kesehatan.

Kasus Yurizal Tri Chaerawan kini tidak hanya menjadi pengingat pentingnya empati dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai kesejahteraan mental para tenaga kesehatan yang setiap hari bekerja di bawah tekanan tinggi.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Tegaskan Dokter Umum Bisa Tangani 144 Penyakit Sesuai Standar Tanpa Harus ke Rumah Sakit

Di satu sisi, pasien yang berada dalam kondisi rentan berhak mendapatkan pelayanan yang manusiawi, dan bebas dari stigma negatif.

Di sisi lain, tenaga kesehatan juga membutuhkan sistem kerja yang mampu menjaga kondisi psikologis mereka agar tetap sehat dan dapat menjalankan profesinya secara profesional.

Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa membangun layanan kesehatan yang berkualitas bukan hanya soal fasilitas dan kompetensi medis, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang memungkinkan empati tumbuh, baik bagi pasien maupun bagi nakes yang bertugas merawatnya.***

 

Halaman:

Editor: Mila Zhely Nurul Hidayah

Sumber: Instagram @lambegosiip

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X