Kamis, 6 Agustus 2026

IDI Sebut Hujatan terhadap Pasien BPJS Diduga Dipicu Burnout, Kasus Yurizal Tri Chaerawan Jadi Sorotan Pentingnya Jaga Kesehatan Mental Nakes

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Kamis, 6 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi tenaga kesehatan dengan tekanan kerja yang memicu stress hingga berperilaku nirempati pada pasien (Pexels/Negative Space)
Ilustrasi tenaga kesehatan dengan tekanan kerja yang memicu stress hingga berperilaku nirempati pada pasien (Pexels/Negative Space)

"Kelelahan (burnout) secara emosional dan fisik yang tidak bisa dikendalikan (coping mechanism) bisa menimbulkan perilaku nirempati," tuturnya. 

Meski demikian, Mahesa mengingatkan bahwa dokter dan tenaga kesehatan merupakan profesi yang terikat oleh kode etik dan sumpah profesi. Karena itu, empati terhadap pasien harus tetap menjadi bagian dari pelayanan yang diberikan.

Ia juga menilai fenomena ini perlu diteliti lebih lanjut karena komentar serupa tidak hanya dilakukan oleh satu profesi kesehatan ataupun berasal dari satu institusi tertentu.

Psikolog Soroti Pentingnya Jaga Kesehatan Mental Nakes

Psikolog juga ikut menyoroti fenomena ini sebagai pengingat pentingnya tenaga kesehatan dalam menjaga kesehatan mental.

Baca Juga: Dirut BPJS Kesehatan Ungkap Realita Biaya Kesehatan, Aliran Iuran, dan Perbandingan Indonesia dengan Jerman

Psikolog Efnie Indrianie menyoroti tekanan kerja tenaga kesehatan gang dituntut mengambil keputusan penting, menghadapi pasien dalam berbagai kondisi, sekaligus menjaga performa agar tetap optimal setiap hari yang berpotensi meningkatkan hormon kortisol pemicu stres yang memengaruhi cara kerja otak.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu menjelaskan bahwa, ketika kadar hormon stres meningkat, bagian otak yang mengatur emosi menjadi lebih dominan.

Sebaliknya, area otak yang berperan dalam empati, kesabaran, dan kemampuan berpikir jernih justru menjadi kurang aktif.

"Hormon kortisol akan mengaktifkan amigdala di sistem otak, yaitu pusat emosi. Sedangkan empati, berpikir jernih, tenggang rasa, dan kesabaran dikendalikan oleh prefrontal cortex. Bagian ini tidak akan banyak teraktivasi saat hormon stres meningkat," jelas Efnie dalam penjelasannya yang disampaikan hari Rabu, 5 Agustus 2026.

Baca Juga: Jadi Gampang Emosi dan Tingkatkan Stress! Psikolog Sebut Cuaca Panas di Indonesia Berdampak Besar pada Kesehatan Mental, Ini Cara Mengatasinya

Efnie turut menyayangkan sikap nirempati nakes dan kejadian ini seharusnya menjadi alarm sebagai momentum untuk memperhatikan kesehatan mental tenaga kesehatan.

Menurutnya, kesejahteraan psikologis nakes perlu mendapat perhatian yang sama seriusnya dengan kesehatan fisik mereka.

"Apakah kita sudah melihat kondisi mental health dari tenaga kesehatan betul-betul mendapatkan perhatian yang lebih? Apakah kesejahteraan mental atau mental wellbeing itu sudah menjadi concern utama?" ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa stres berat sering kali muncul akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari tekanan pekerjaan hingga persoalan pribadi.

Halaman:

Editor: Mila Zhely Nurul Hidayah

Sumber: Instagram @lambegosiip

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X