news

BRI Beberkan Kekuatan Keuangan Terbarunya, Dari Dana Murah yang Naik hingga Modal Besar untuk Ekspansi Kredit

Sabtu, 30 Mei 2026 | 22:35 WIB
Kinerja kekuatan BRI. (Dok. BRI)

SketsaNusantara.id - Ketidakpastian ekonomi global masih membayangi berbagai sektor usaha sepanjang awal 2026. Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan industri perbankan nasional tetap menjaga stabilitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Salah satu yang mencatatkan kinerja positif adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Hingga akhir Triwulan I 2026, perseroan mampu mempertahankan kondisi keuangan yang solid dengan likuiditas dan permodalan yang tetap berada pada level memadai.

Pencapaian tersebut ditopang oleh pengelolaan risiko yang disiplin serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan kegiatan bisnis. Di saat yang sama, BRI juga terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kecukupan pendanaan.

Baca Juga: BRI Kini Layani Penukaran 20 Mata Uang Asing, Gerai Money Changer Hadir di Bandara hingga Perbatasan Negara

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi menjelaskan bahwa kondisi likuiditas perseroan masih berada dalam kategori kuat. Rasio likuiditas yang dimiliki BRI tercatat jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator.

Menurut data hingga akhir Maret 2026, loan to deposit ratio (LDR) BRI berada di level 86,7 persen. Angka tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjaga fungsi intermediasi sekaligus menyediakan ruang bagi pertumbuhan kredit pada periode berikutnya.

“Hingga akhir Maret 2026, loan to deposit ratio (LDR) BRI tercatat 86,7% yang menurut kami masih ideal dalam hal mengelola fungsi intermediary, tidak terlalu ketat namun juga cukup optimal untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan,” ujar Achmad Royadi.

Baca Juga: Dari Motor Rengkek Hingga Punya Dua Toko: Perjalanan Panjang Samsul Arif, Pedagang di Jombang yang Sukses Berkat KUR BRI

Selain menjaga likuiditas, BRI juga mencatat perbaikan pada struktur pendanaan. Salah satu indikatornya terlihat dari penurunan biaya dana atau cost of fund berbasis dana pihak ketiga.

Pada Triwulan I 2025, cost of fund tercatat sebesar 3,0 persen. Setahun kemudian, angka tersebut turun menjadi 2,3 persen. Penurunan sebesar 65 basis poin itu mencerminkan efisiensi yang berhasil dicapai melalui pengelolaan sumber pendanaan.

Perbaikan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya porsi dana murah atau current account saving account (CASA). Rasio CASA BRI naik dari 65,8 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 68,1 persen pada Triwulan I 2026.

Kenaikan dana murah menjadi salah satu faktor yang mendukung efisiensi biaya pendanaan. Kondisi itu juga memperkuat struktur funding perusahaan dalam mendukung kebutuhan pembiayaan ke depan.

Dari sisi permodalan, BRI juga mencatat posisi yang kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan berada di level 22,90 persen. Angka tersebut jauh melampaui ketentuan minimum regulator yang berlaku bagi bank sistemik.

Dengan tingkat permodalan tersebut, BRI memiliki ruang yang cukup luas untuk menjalankan ekspansi bisnis secara terukur. Ketersediaan modal yang kuat juga menjadi bantalan dalam menghadapi berbagai risiko yang mungkin muncul di masa mendatang.

Halaman:

Tags

Terkini