Film "Pesta Babi" merupakan hasil kolaborasi investigatif antara Watchdoc Documentary bersama Jubi Media, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia.
Sejak dirilis, film ini mencuri perhatian publik karena dianggap menjadi potret kritis terhadap dampak industrialisasi dan eksploitasi sumber daya alam di Papua.
Film ini menonjolkan sorotan tajam terhadap pembangunan proyek strategis yang dinilai eksploitatif dan tidak adil bagi masyarakat asli serta merusak alam Papua.
Menariknya, judul dokumenter ini yang diambil dari tradisi pesta babi sebagai simbol kehormatan dan persaudaraan, namun kini terganggu karena kerusakan lingkungan.
Di sisi lain, pembubaran penayangannya di sejumlah kampus juga memicu kritik dan perdebatan hangat di media sosial.
Banyak warganet menyayangkan film dokumenter yang dianggap menyuarakan keresahan masyarakat Papua justru tidak dapat diputar secara bebas.
Dandhy Laksono selaku sutradara film ini juga mempertanyakan hal tersebut. "Setelah Undikma, Unram, sekarang UIN. Ada apa dengan kampus-kampus di Mataram," tulisnya dalam unggahan di akun Instagram @dandhy_laksono.
Meski dilarang penayangannya, banyak yang mengaku makin penasaran dan ingin melihat film dokumenter itu secara utuh.
"Makin dilarang makin kita penasaran, film apa itu. Waktu cek di YT (YouTube) liat trailernya aja nangis, tapi emosi kenapa nggak boleh banyak orang lihat film ini apa negara takut denan film dokumenter kaya gini?" komentar salah satu warganet di Instagram.
Tak sedikit pula warganet yang juga ikut menyinggung isu eksploitasi alam Papua yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
"Para penguasa sudah ancang-ancang mau manfaatkan kekayaan alam Papua, tapi caranya nggak manusiawi dan merusak alam. Negara takut (film tentang) eksploitasi Papua diketahui semua masyarakat, ini kah yang dimaksud demokras?" tulis warganet lainnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini