SketsaNusantara.id - Linimasa media sosial belakangan ini cukup ramai menyoroti penayangan film "Pesta Babi" di sejumlah universitas yang dibubarkan secara paksa oleh pihak kampus.
Dalam video yang beredar, terlihat acara nonton bareng film tersebut yang digelar sejumlah organisasi mahasiswa di sekitar Gedung PKM Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) dibubarkan pihak keamanan kampus pada hari Kamis, 7 Mei 2026.
Tak hanya itu, nonton bareng yang digelar oleh organisasi Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram juga dibubarkan paksa pada hari Jumat, 8 Mei 2026. Petugas keamanan kampus menyampaikan bahwa mahasiswa dilarang menonton film tersebut sesuai perintah Rektor.
Fenomena ini mengejutkan publik sekaligus memicu rasa penasaran. Lantas, apa sebenarnya film "Pesta Babi" dan kenapa penayangannya tak bisa dilakukan secara bebas?
Diketahui, "Pesta Babi" merupakan film dokumenter investigatif karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale yang diproduksi oleh Watchdoc Documentary.
Film tersebut mengangkat potret perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan dalam menghadapi ekspansi industri biodiesel sawit dan tebu, serta dampak destruktif Proyek Strategis Nasional terhadap hutan dan tanah leluhur mereka.
Dirilis bulan sejak bulan April 2026 lalu, film dokumenter berdurasi 1 jam itu mengangkat isu deforestasi masif, perampasan tanah adat, dan konflik agraria di Papua, khususnya terkait ekspansi proyek agribisnis dan perkebunan tebu.
"Pesta Babi adalah film dokumenter tentang deforestasi cepat di Papua Barat yang disebabkan oleh ekspansi agribisnis besar-besaran, termasuk perkebunan tebu untuk bioetanol," tulis akun Instagram @watchdoc_insta dikutip SketsaNusantara.id pada hari Sabtu, 9 Mei 2026.
"Film ini menunjukkan bagaimana proyek-proyek ini mengambil alih hutan yang diandalkan oleh masyarakat adat untuk kehidupan sehari-hari mereka," imbuhnya.
Dokumenter ini menyoroti bagaimana pembangunan industri dinilai merusak ruang masyarakat adat, mulai dari hutan hingga sungai, yang menjadi sumber pangan dan mata pencaharian mereka.
Tak hanya itu, dalam film ini Dandhy Laksono juga ikut menyoroti peran militer dalam mendukung dan mengamankan proyek-proyek strategis di Papua.
"Melalui kesaksian dari masyarakat adat Papua, film dokumenter ini menunjukkan bagaimana banyak yang menolak pembangunan di tanah adat mereka dan ingin terus hidup dengan hutan yang utuh, sungai yang bersih, dan sumber makanan tradisional," ungkap Watchdoc dalam unggahannya.
Artikel Terkait
Skandal Tambang Nikel di Raja Ampat! Luas Konsesi PT Gag Nikel Dua Kali Pulau Gag, Ekosistem Laut Papua Terancam Punah
Kecam Eksploitasi Nikel di Raja Ampat Papua, Denny Sumargo Ngadu Langsung ke Presiden Prabowo: Tolong Sekali, Pak...
Polemik Tambang di Raja Ampat Papua, Admin Gerindra Dihujani Pertanyaan Netizen! Responsnya Bikin Kaget: Tanya ChatGPT
Terancam Punah, Ini 5 Fakta tentang Noken, Tas Rajut Tradisional Khas Papua yang Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia
Edo Kondologit Tinggalkan Kursi DPRD Papua Barat Daya dan Mundur dari PDIP Perjuangan, Ternyata Pilih Fokuskan Hidup Untuk Melakukan Ini...