Bagi sebagian anak, kesempatan memperoleh penghasilan dari pentas budaya ini menjadi alasan untuk lebih fokus pada aktivitas tersebut dibandingkan melanjutkan pendidikan formal.
Meski demikian, pihak sekolah disebut telah melakukan berbagai upaya untuk mengajak anak-anak tersebut kembali melanjutkan pendidikan.
Menurut akun tersebut, tidak sedikit tenaga pendidik yang berusaha membujuk para siswa agar tetap melanjutkan sekolah.
“Berbagai macam cara ditempuh oleh pihak sekolah untuk membujuk si anak agar supaya mau kembali bersekolah. Kadang berhasil, kadang tidak,” lanjutnya.
Namun dalam beberapa kasus, ajakan tersebut tidak selalu berhasil karena pengaruh lingkungan dan kelompok pergaulan yang sudah lebih kuat.
Baca Juga: Wisata Sejarah di Malang Jawa Timur, Inilah Pesona Candi Singosari dan Kisah Legendanya yang Memikat
Selain peran sekolah dan keluarga, pemilik akun juga menyoroti pentingnya keterlibatan para pemilik kelompok bantengan dalam menyelesaikan persoalan ini.
Ia menilai bahwa para pemimpin kelompok memiliki pengaruh besar terhadap anggota mereka, termasuk anak-anak yang masih berada di usia sekolah.
“Menurutku, selain peran aktif sekolah dan keluarga, para pemilik kelompok bantengan ini mulai ikut mengupayakan agar semua anggotanya yang masih sekolah, tetap bersekolah,” ungkapnya.
Ia juga menyebut bahwa anak-anak yang bergabung dalam kelompok tersebut cenderung lebih mendengarkan arahan dari para pemimpin kelompok.
“Karena nampaknya, anak-anak lebih mendengar nasihat dari para bos bantengan ini,” jelasnya.
Karena itu, dukungan dari komunitas bantengan dinilai sangat penting untuk memastikan bahwa aktivitas budaya tidak mengorbankan pendidikan anak.
Meski menyoroti dampak negatif yang mungkin muncul, pemlik akun tetap menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal seperti bantengan merupakan hal yang penting.
“Berperan dalam melestarikan budaya tentu baik dan penting, apalagi untuk generasi muda,” tulisnya.