“Tapi harus melalui cara-cara yang tidak merugikan diri sendiri atau bahkan merugikan orang lain,” imbuhnya.
Lebih lanjut, dalam perkembangan yang lebih positif, beberapa sekolah disebut mulai mengakomodasi minat siswa terhadap bantengan melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi agar anak-anak tetap bisa menyalurkan minat budaya mereka tanpa harus meninggalkan pendidikan.
“Alhamdulillah sudah mulai banyak sekolah yang mewadahi bantengan dalam bentuk ekstrakurikuler, sehingga anak-anak bisa menyalurkan bakat bantengan di sekolah dengan lebih aman,” tutupnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Makna Hajad Dalem Labuhan yang Digelar Keraton Yogyakarta, Tradisi Sakral Parangkusumo Sarat Nilai Spiritual dan Budaya
Museum Rumah Budaya Tembi di Bantul: Ruang Hidup Sejarah Jawa yang Mandiri, Nirlaba, dan Terus Menghidupkan Tradisi Lokal
Bir Jawa, Minuman Tradisional Kraton Yogyakarta Hasil Akulturasi Budaya Favorit Sultan Hamengkubuwono VIII
Sego Wiwit: Sajian Ritual Petani Jawa Penanda Awal Panen yang Menyimpan Sejarah dan Makna Budaya
Jadi Sorotan Media Asing, Inilah Beragam Tradisi Unik Perayaan Imlek di Indonesia, Semarak Tahun Baru China dengan Akulturasi Budaya yang Penuh Makna
Apa itu Hierarki Budaya? Rhenald Kasali Soroti Perseteruan SEAblings vs Knetz yang Bisa Meruntuhkan Soft Power Korea Selatan, Begini Penjelasannya