Saat menginjak dewasa, putra dari Raden Ngabehi Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero ini lebih dikenal dengan nama Tirto Adhi Soerjo.
Pendidikan Tirto Adhi Soerjo
Tirto menghabiskan masa kecilnya di Blora, Bojonegoro hingga Rembang.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Rembang, Tirto melanjutkan studinya di Hogere Burger School atau HBS di Batavia hingga diterima di sekolah calon dokter Bumiputera, STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artshen).
Dikutip dari kanal YouTube Melawan Lupa Metro TV, meski bersekolah di sekolah calom dokter, Tirto lebih tertarik menjadi seorang wartawan.
Saat masih menempuh pendidikan di STOVIA, Tirto muda sudah kerap mengirim tulisan ke beberapa surat kabar milik Hindia Belanda.
Kecintaannya terhadap dunia tulis-menulis juga membuat Tirto memutuskan untuk tidak melanjutkan studi kedokterannya.
Tak lama setelah itu, Tirto dipercaya untuk menjadi redaktur koran Pembrita Betawi pada tahun 1901.
Mimpi Tirto untuk memimpin surat kabar akhirnya terwujud pada tahun 1903.
Dikutip dari laman Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI), pada tahun tersebut, Tirto menerbitkan koran Soenda Berita, yang juga menjadi surat kabar pertama yang didirikan, dikelola dan diterbitkan oleh seorang Bumiputera.
Dua tahun kemudian yakni tahun 1905, Tirto melakukan perjalanan ke timur, tepatnya ke wilayah Maluku.
Selain bertemu dengan pujaan hatinya, Prises Fatimah, Tirto juga menemukan banyak hal yang membuat gaya tulisannya berubah, lebih berani dan lugas.
Tahun 1907, Tirto dan beberapa rekannya mendirikan Medan Prijaji, koran yang terbit mingguan.