SketsaNusantara.id – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) mengirim surat terbuka kepada lembaga internasional UNICEF menyusul tragedi meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Belum lama ini, bocah berusia 10 tahun (inisial YBR) ramai jadi sorotan publik setelah ditemukan tak bernyawa. Ia diduga mengakhiri hidupnya sendiri karena tak mampu membeli peralatan sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Dalam sepucuk surat yang ditinggalkannya untuk sang ibu, YBR menyampaikan keinginannya untuk membeli buku dan pena. Mirisnya, bantuan pendidikan yang diharapkan belum juga diterima keluarga, yang diduga membuat YBR merasa putus asa hingga nekat mengakhiri hidupnya.
Tragedi ini menuai simpati dari berbagai pihak dan memicu kemarahan publik. Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka menyebut kasus ini sebagai alarm keras bagi negara dan menyoroti persoalan penyaluran bantuan sosial yang dinilai masih bermasalah.
Selain itu, akademisi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya juga menekankan pentingnya peran negara dalam memberikan pendampingan untuk memperhatikan kesehatan mental anak.
Di tengah polemik tersebut, BEM UGM menyampaikan surat kepada United Nations Children's Fund (UNICEF) sebagai bentuk keprihatinan atas tragedi yang menimpa YBR.
Surat yang ditulis Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan ditujukan kepada Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell itu berisi kritik keras terhadap sistem perlindungan anak, kebijakan pendidikan, hingga arah kepemimpinan nasional yang dinilai belum berpihak pada kelompok rentan.
Berikut lima poin utama isi surat BEM UGM yang menjadi sorotan publik, dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @mahasiswa_bergerak pada hari Jumat, 6 Februari 2026.
1. Tragedi di NTT Disebut Sebagai Krisis Kemanusiaan yang Bisa Dicegah
Dalam tulisan menyentuh, BEM UGM menyatakan keprihatinan dengan menyebut tragedi di NTT sebagai bukti nyata krisis kemanusiaan yang luput dari perhatian negara dan kegagalan sistemik yang seharusnya bisa dicegah.
"Dunia macam apa yang kita tinggali saat seorang anak kehilangan nyawanya hanya karena tidak mampu membeli pulpen dan buku?" tulisnya.
"Ini bukanlah takdir, bukan pula insiden yang berdiri sendiri; ini adalah hal yang bisa dicegah dan merupakan hasil dari kegagalan sistemik," ujarnya.
Artikel Terkait
Netizen Serang Himpunan Pengusaha Muda UGM, Tuntut Keadilan atas Kecelakaan Maut yang Merenggut Nyawa Mahasiswa Hukum UGM
Yustinus Prastowo Angkat Suara soal Kematian Argo Ericko, Percaya Publik Bisa Dorong Keadilan seperti Kasus Mario Dandy
Prabowo Singgung BUMN, Pangkas Komisaris, dan Tegaskan Pajak Keadilan dalam Pidato Kenegaraan Perdana di Senayan
Ikut Pasang Badan Soal Keadilan Indonesia, Boris Bokir Sindir Anggota DPR RI Agar Ingat Akan Janji: Jangan Tengil...
Dinilai Tak Berpihak pada Palestina, MUI Minta Indonesia Mundur dari Board of Peace, Cholil Nafis: Perdamaian itu Paralel dengan Keadilan
Mengaku Salah Mencuri, Dua Pelaku di Deli Serdang Malah Minta Keadilan Usai Dipukuli Korban