SketsaNusantara.id – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI dan Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, berikan keterangan pers usai bertemu Presiden Prabowo.
Dino Patti Djalal memberikan apresiasi terhadap keterbukaan Presiden Prabowo Subianto dalam mendiskusikan arah kebijakan luar negeri Indonesia, khususnya terkait keputusan bergabung dengan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian.
Hal itu disampaikan dalam keterangan pers usai pertemuan di Istana Merdeka pada Rabu, 4 Februari 2026.
Dino menilai bahwa langkah Presiden Prabowo membawa Indonesia masuk ke dalam Board of Peace (BOP) sebagai pendekatan yang sangat realistis.
Di tengah dinamika geopolitik yang pelik, BOP saat ini menjadi satu-satunya instrumen diplomatik yang tersedia di meja perundingan untuk mendorong gencatan senjata di Gaza.
"Kesan saya, Presiden mempunyai pendekatan yang realistis. Saat ini, satu-satunya opsi di atas meja adalah Board of Peace. Tidak ada opsi lain yang secara faktual berpotensi menghentikan kekerasan saat ini," ujar Dino dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Meski mendukung, Dino menekankan bahwa BOP bukanlah "obat mujarab" yang pasti berhasil. Ia menyebutnya sebagai sebuah eksperimen diplomatik yang sarat risiko, terutama karena melibatkan aktor-aktor kompleks seperti Amerika Serikat di bawah Donald Trump dan pengaruh kuat Israel.
Faktor lapangan di Gaza, posisi Hamas, hingga dominasi Israel terhadap kebijakan luar negeri AS menjadi tantangan besar.
Dino mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo sangat menyadari risiko-risiko tersebut dan tidak melihat BOP dengan kacamata yang naif.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa posisi tawar Indonesia di dalam BOP akan diperkuat melalui solidaritas dengan delapan negara berpenduduk Muslim lainnya, termasuk Turki, Mesir, Yordania, dan Arab Saudi.