SketsaNusantara.id – Desakan mundur yang dilayangkan jajaran Syuriyah PBNU kepada Ketua Umum Tanfidziyah, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), memicu reaksi beragam dari internal Nahdlatul Ulama.
Salah satunya datang dari Alissa Wahid, putri mendiang Gus Dur terkait situasi ditubuh PBNU saat ini.
Alissa dalam hal ini memandang bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan sebuah dinamika biasa jelang Muktamar PBNU yang akan dilaksanakan pada tahun 2026 nanti.
Baca Juga: Polemik Risalah Syuriyah Dijawab, PBNU Pastikan Tidak Ada Desakan Mundur untuk Ketua Umum
"Jadi dinamika ini memang sesuatu yang tentu (terjadi) menjelang Muktamar, itu biasa," ungkap Alissa Wahid dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube tvOneNews.
"Biasanya satu tahun sebelum menjelang itu sudah mulai terasa, calon-calon mulai bermunculan lalu hal-hal apa yang ingin di evaluasi juga mulai bermunculan," imbuhnya.
Meski demikian, Alissa dalam persoalan ini memandang sebagai sebuah mekanisme organisasi yang perlu diselesaikan dan tidak berpengaruh langsung pada muktamar.
Untuk itu dalam penyelesaiannya ia menekankan pentingnya konstitusi organisasi, etika bermusyawarah, dan fokus pada kemaslahatan umat.
"Sebagai cucu buyut dari para pendiri NU kami berharap dinamika ini dapat terlampaui dengan baik sebagai pelajaan bagi NU ke depan," tegas Alissa.
Menurut Alissa persoalan seperti ini seharusnya bisa diselesaikan dengan baik sebab dalam NU setiap permasalahan akan diselesaikan sesuai dengan kaidahnya.
"Sesuai diktum atau kaidah, berbedaan pendapat para pemimpin itu justru Rahmat bagi pengikutnya asal bisa dikelola dengan baik," ungkap Alissa.
Untuk itu ia berharap agar segala persoalan antara Tanfidziyah yang dipimpin Gus Yahya dan Syuriyah yang dipimpin Rais Aam KH Miftachul Akhyar dapat dikelola dengan baik melalui tabayun dan islah.