Namun ketika Tamasya Band bersiap naik ke panggung, saya buru-buru ikutan maju ke area ‘festival’, berebut tempat paling depan dengan penonton yang antusias menonton Hakim cs.
Dengan latar belakang pecinta alam, Hakim cs membawakan lagu dengan tema-tema lingkungan.
Saya nggak hapal judulnya, tapi ada satu lagu yang cukup melekat di kepala, Meru Betiriku.
Kawan, yang aku takutkan
Meru Betiri berubah jadi tambang
Bukan bukan bukan bukan aku tak paham
Tapi mengapa ku hanya resah dan diam
Apakah aku takut diancam dan dihabiskan
Tentu saja aku gentar diculik dan dibuang
Tapi bagaimanapun harus ada yang berdendang
berpacu bersama jalur lintas selatan
Suara Hakim yang serak menyadarkan saya, lagu yang diciptakan belasan tahun yang lalu masih relate hingga saat ini.
Penonton juga ikut menyanyi saat bagian reff, Kawan, ulurkan tanganmu kita kan teman, doakan aku tak terlalu sumbang, bagaimanapun ku harus berdendang.
Setelah penampilan band kesayangan warga Kampung Lortskal, penampil selanjutnya yakni Ismam Saurus yang membawakan 5 lagu karyanya.
Ismam dengan gitar akustiknya tentu saja membawakan salah satu hits-nya, Orang Desa dan Berproses (Salam Hormat) yang ia rilis tahun ini.
Kerumunan penonton kian memenuhi Lapangan Kampung Lorstkal, saya sampai beberapa kali tak sengaja menyenggol mbak-mbak di sebelah.
Bahkan warga sekitar—didominasi ibu-ibu yang duduk menggelar spanduk di sisi belakang lapangan, sempat mengeluh gara-gara terhalang penonton yang mulai beringsut ke depan.
Dan tentu saja, bintang malam itu, Orkes Silampukau menjadi yang paling terakhir tampil dengan 11 lagu yang diambil dari album pertama dan kedua.
Lagu pertama, Eki-Kharis sepertinya ingin menyapa penonton dan warga Kalisat dengan membawakan lagu Hei.