Sesi diskusi di halaman SMA 10 Nopember Kalisat, yang saya rasa lebih cocok disebut ngobrol santai sore ini dipandu Nuran Wibisono, jurnalis Tirto asli Jember yang ternyata teman pak Bos.
Orkes Silampukau bersama Ismam Saurus dan Tamasya Band saling berbagi cerita tentang kampung halaman dan musik-musik mereka.
Bagaimana Kharis dan Eki memilih ‘kampung halaman’ yang lebih luas, dari Surabaya menjadi sebuah negeri bernama Arkipelagia.
Sementara Ismam Saurus, musisi dari kota sebelah—Lumajang, yang ternyata kepikiran buat album silsilah keluarga cuma gara-gara lihat Ebiet G Ade dan Iwan Fals manggung bareng di Pestapora 2025.
Sedangkan Mas Hakim perwakilan dari Tamasya Band asal Jember ini punya pandangan tersendiri tentang kampung halaman dan perannya bagi seseorang.
“Manusia terus berkembang, lahir ilmu-ilmu mulai dari geologi, etnografis sampai historiografis dan teknik juga berkembang pesat, teknologi berkembang pesat, membuat kita bisa mengintervensi ruang-ruang geografi, ruang-ruang lanskap tapi pada akhirnya kita akan sadar bahwa lanskap yang membentuk kita,” kata Hakim.
Satu jam rasanya berlalu sangat cepat, Nuran bahkan terpaksa menutup sesi diskusi karena time out, padahal saya masih punya banyak pertanyaan khususnya buat Eki-Kharis.
Diskusi akhirnya disudahi, Orkes Silampukau dan Ismam yang harus siap-siap sebelum tampil malam nanti di Panggung Kampung bergegas menuju mobil masing-masing.
Saat itulah saya mencoba mencuri-curi kesempatan dengan mengikuti Mas Hakim, tetua di Sudut Kalisat agar bisa mencuri waktu untuk bertanya satu-dua pertanyaan ke Orkes Silampukau.
Beruntung, Kharis yang jalan belakangan bersama Mas Hakim mau meluangkan waktu untuk 1 pertanyaan.
Di waktu yang singkat dan diburu-buru adzan magrib, saya menodong Kharis dengan pertanyaan ‘titipan’ dari pak bos.
“Apa Mas Kharis percaya, kalau musik bisa mengubah dunia?”
“Sudah berkali-kali dibuktikan, bisa. Cuma saya nggak percaya kalau ada song writer yang punya mimpi mengubah dunia,” kata Kharis.
Lulusan Sastra Indonesia UNAIR ini mencontohkan musik Bob Marley yang menurutnya bisa memerdekakan Zimbabwe.
Artikel Terkait
Pro Kontra Permainan Gasing Penghapus yang Viral di Medsos, Guru Ingatkan Bahayanya bagi Siswa SD: Beresiko Lukai Anak hingga Dinilai Pemborosan
Pasca Kecelakaan yang Menewaskan Sejumlah Karyawan RS Bina Sehat, Khofifah Minta Dishub Evaluasi Bus Pariwisata
Update Kecelakaan Naas di Probolinggo, Owner RS Bina Sehat Faida: 9 Orang Jalani Operasi Patah Tulang dan Bedah Saraf
Polisi Terus Selidiki Kasus Kecelakaan Maut di Probolinggo, Dirgakkum Korlantas Polri: Pemeriksaan Saksi Terus Berjalan
Sebut Murni Acara Pribadi Karyawan saat Kecelakaan Maut Jalur Bromo Probolinggo, Ini Pernyataan Direktur RS Bina Sehat Jember
Sampaikan Duka Mendalam Pasca Kecelakaan Maut, Gubernur Jatim Khofifah dan Bupati Jember Gus Fawait Melayat ke Rumah Keluarga