Kamis, 4 Juni 2026

Bersenang-senang di Panggung Kampung ala Kalisat Tempo Dulu Bersama Orkes Silampukau dan Kisah dari Negeri Arkipelagia

Photo Author
Siti Nurlaela Hanifah, Sketsa Nusantara
- Senin, 15 September 2025 | 18:57 WIB
Orkes Silampukau saat tampil di Panggung Rakyat dalam penutupan Kalisat Tempo Dulu ke-10: Lanskap Bercakap (Dok. SketsaNusantara.id/Siti Nurlaela)
Orkes Silampukau saat tampil di Panggung Rakyat dalam penutupan Kalisat Tempo Dulu ke-10: Lanskap Bercakap (Dok. SketsaNusantara.id/Siti Nurlaela)

Disusul dengan 4 lagu andalan dari album Dosa, Kota dan Kenangan: Sang Juragan, Lagu Rantau (Sambat Omah), Malam Jatuh di Surabaya dan Si Pelanggan.

Meski ini kali perdana Orkes Silampukau manggung di Jember khususnya Kalisat, keempat lagu yang berlatar Surabaya itu ternyata cukup berkesan pagi penonton yang saya rasa merupakan akamsi—anak kampung sini.

Seperti dua penonton perempuan di sebelah saya yang ikut menyanyikan Malam Jatuh di Surabaya dengan suara penuh emosi, seolah sedang mengingat masa lalu.

Tapi toh seperti kata Kharis di sesi diskusi tadi sore, “kampung halaman itu nggak semata-mata kampung geografis, karena kita bisa menemukan kampung halaman kita di mana pun,” katanya.

Terbukti, Wafi, teman saya asli Jember yang juga ikut nonton begitu menghayati lagu-lagu Surabaya-sentris itu.

Barulah di lagu ke-6, Orkes Silampukau masuk ke dunia Arkipelagia yang disebut Kharis sebagai ‘Negeri amit-amit’.

Meski sempat break 2 menit gara-gara senar gitar Kharis putus—untung Ismam bawa gitar akustiknya—kami dibawa masuk ke Arkipelagia lewat kidung tidur berjudul Jurang Kemiskinan I.

Permainan keyboard Resya yang tiba-tiba membuat penonton agak terkejut dan berdecak kagum (saya).

Lagu yang menceritakan tentang kebingungan bagaimana nasib negeri Arkipelagia ini menjadi pintu masuk yang sangat njomplang dari ‘lagu-lagu Surabayaan’ sebelumnya.

Kalau kelima lagu dari album pertama mengajak penonton bernyanyi, Jurang Kemiskinan sebaliknya, membuat kepala dan kaki saya ingin menghentak cepat seperti tempo lagu ini.

Lanjut ke lagu kedua di album terbarunya, Orkes Silampukau menyanyikan Sejauh ‘Ku Memandang yang mereka sebut juga Paceklik Blues.

Nuansa country minor di bagian reff memanjakan telinga saya, membuat saya makin yakin, Orkes Silampukau bukan hanya bertumbuh lebih besar, tapi juga lebih ‘dewasa’.

Setelah menceritakan distopia di Arkipelagia secara eksplisit, Kharis kemudian menceritakan tentang ketakutan—salah satunya public housing—yang dialami warga negeri rekaan ini lewat lagu Sejoli.

Tentang Bobby dan Erika yang bermain cinta di sudut asrama hingga tiba-tiba muncul garis dua.

Dan lagu terakhir dari album kedua yang dibawakan malam itu, In Memoriam atau Halimun Rahasia.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X