Namun, hal ini tampaknya menimbulkan kesalahpahaman yang kemudian memicu adanya klaim dari negara tetangga termasuk Malaysia dan negara ASEAN lainnya yang masih serumpun Melayu.
Menanggapi ramainya klaim dari luar negeri, Dinas Pariwisata Riau juga bergerak dengan mengusulkan agar Pacu Jalur didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa media sosial bisa menjadi alat ampuh untuk mengangkat budaya lokal ke panggung dunia, namun juga rentan memunculkan klaim budaya dari negara lain.
Kritik Rizalmuk menjadi pengingat bahwa upaya pelestarian budaya tak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus melibatkan berbagai pihak, terutama bagi para kreator konten yang menjadi ujung tombak promosi di era digital.
Dengan dukungan terhadap konten kreator lokal dan promosi yang konsisten, bukan hal yang tidak mungkin kebudayaan Indonesia lainnya bisa terkenal seperti Pacu Jalur yang kini makin bersinar di panggung dunia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini