Namun, hal ini tampaknya menimbulkan kesalahpahaman yang kemudian memicu adanya klaim dari negara tetangga termasuk Malaysia dan negara ASEAN lainnya yang masih serumpun Melayu.
Menanggapi ramainya klaim dari luar negeri, Dinas Pariwisata Riau juga bergerak dengan mengusulkan agar Pacu Jalur didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa media sosial bisa menjadi alat ampuh untuk mengangkat budaya lokal ke panggung dunia, namun juga rentan memunculkan klaim budaya dari negara lain.
Kritik Rizalmuk menjadi pengingat bahwa upaya pelestarian budaya tak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus melibatkan berbagai pihak, terutama bagi para kreator konten yang menjadi ujung tombak promosi di era digital.
Dengan dukungan terhadap konten kreator lokal dan promosi yang konsisten, bukan hal yang tidak mungkin kebudayaan Indonesia lainnya bisa terkenal seperti Pacu Jalur yang kini makin bersinar di panggung dunia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Berlayar sejak Tahun 1500, Kapal 7 Layar ini adalah Bukti Keperkasaan Pelaut Indonesia yang Mendunia
Sejak 1980-an, Bangunan di Jember ini Jadi Penjaga Warisan Budaya dan Pusat Edukasi, Tak Hanya Menyimpan Sejarah
7 Fakta Menarik Raden Saleh, Maestro Legendaris Pelopor Seni Modern Indonesia, Karya Lukisannya Mendunia hingga Tampil di MV Jin BTS!
Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Begini Tradisi Pemakaman Umat Hindu di Jember, Prosesi Sakral yang Sarat Makna Budaya, Mirip Seperti di Bali?
Band Selokan Belakang Rilis Single 'Jamet Jember Utara', Lewat Genre Musik Garage Rock Teriakkan Perlawanan terhadap Hegemoni Budaya Ibu Kota
Rendang Khas Minangkabau Bukan Sekadar Makanan Lezat Tapi Juga Mengandung Makna dan Nilai Budaya yang Kuat