SketsaNusantara.id - Jatuh di ketinggian 9.400 kaki, Juliana Marins tidak meninggal karena hipotermia.
Hal tersebut diungkap Dokter Spesialin Forensik dr. Ida Bagus Putut Alit.
Dokter forensik di RSUP Prof. Ngoerah ini mengungkapkan penyebab kematian Juliana Marins yakni benturan terhadap benda keras.
Ia pun dengan tegas membantah hipotermia sebagai menyebab meninggalnya pendaki asal Brasil tersebut.
Alit mengungkapkan, bahwa saat autopsi, tidak ditemukan adanya luka-luka hipotermia pada tubuh Juliana Marins.
“Luka-luka yang ditimbulkan karena hipotermia itu tidak ada,” terangnya.
Adapun luka hipotermia yang dimaksud Alit yakni luka pada ujung-ujung jari.
Dokter Forensik yang pernah terlibat dalam kasus kematian Brigadir J (Nofriansyah Yosua Hutabarat) ini juga menambahkan, kematian akibat hipotermia memakan waktu yang cukup lama.
“Hipotermia itu memang memerlukan waktu yang lama sampai orang itu meninggal,” ungkapnya.
Sementara itu, berdasarkan hasil autopsi, Juliana Marins diperkirakan meninggal 20 menit setelah jatuh.