SketsaNusantara.id - Proyek penulisan buku sejarah oleh Kementerian Kebudayaan menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Khususnya aliansi Sejarawan Indonesia menolak keras penulisan ulang sejarah yang tidak berdasar pada fakta sejarah yang sudah ada.
Dengan kata lain, Aliansi Sejarawan ini menilai bahwa proyek penulisan buku sejarah oleh Kemenbud berdampak pada sejarah yang kabur serta menguntungkan kelompok rezim tertentu.
Kecemasan sejarawan mulai terbukti dengan pernyataan Fadli Zon beberapa waktu lalu yang menghebohkan publik.
Di mana ia menegaskan bahwa sejarah terjadinya pemerkosaan massal dalam tragedi 1998 hanyalah rumor dan cerita tak berdasar tanpa bukti pendukung.
Tentu saja pernyataan Menteri Kemenbud ini dengan sekejap mendapat kecaman dari publik, khususnya aktivis perempuan dan sejarawan lainnya.
Berdasarkan hasil pantauan tim redaksi SketsaNusantara.id di media sosial instagram, telah beredar template postingan Insta Story dengan judul utama "PEMERKORSAAN MASSAL 1998 ADALAH FAKTA BUKAN RUMOR!".
Di bawah postingan tersebut tertulis dengan tegas "Tolak Penulisan Ulang Sejarah oleh Penguasa!".
Penjelasan yang tertulis dalam template postingan tersebut berdasarkan pada Dokumen Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 98 yang dirilis Komnas Perempuan.
Beberapa poin penting yang ditekankan dan telah dibagikan ulang oleh hampir 30 ribu akun instagram ini antara lain menyangkut alasan yang merujuk pada pernyataan Fadli Zon bahwa peristiwa kelam tersebut hanyalah berupa "cerita".