Senin, 13 Juli 2026

Samsara Bamboo Festival 2026 Digelar di Bali, Bambu Diangkat Jadi Kunci Pariwisata Regeneratif dan Pelestarian Alam

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Selasa, 26 Mei 2026 | 20:30 WIB
Perkumpulan Samsara Raksa Budaya bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi menggelar Samsara Bamboo Festival 2026.  (Dok. Samsara Raksa Budaya)
Perkumpulan Samsara Raksa Budaya bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi menggelar Samsara Bamboo Festival 2026. (Dok. Samsara Raksa Budaya)

SketsaNusantara.id - Perkumpulan Samsara Raksa Budaya bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi menggelar Samsara Bamboo Festival 2026 di Bali. Festival tersebut berlangsung selama tiga hari di Samsara Living Museum, Jungutan, Karangasem.

Mengusung tema Jagath Karana, festival itu digelar pada 22 hingga 24 Mei 2026. Kegiatan tersebut dihadirkan sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan antara budaya, lingkungan, dan pembangunan pariwisata berbasis masyarakat.

Samsara Bamboo Festival juga muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak pembangunan pariwisata di Bali. Selain menjadi penggerak ekonomi utama, sektor pariwisata disebut memiliki risiko terhadap keseimbangan sosial budaya dan lingkungan.

Baca Juga: Fakta Menarik Candi Ganjuran Yogyakarta, Perpaduan Budaya Jawa dan Katolik dengan Keajaiban Tirta Perwitasari

Melalui festival tersebut, bambu diangkat sebagai simbol penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Tanaman itu disebut memiliki peran besar dalam adat, tradisi, hingga kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Ketua Perkumpulan Samsara Raksa Budaya, Ida Bagus Agung Gunarthawa, mengatakan Bali beberapa waktu terakhir sering menghadapi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan ketidakseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Karena itu, diperlukan langkah strategis untuk menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Manten Sapi di Pasuruan, Ritual Unik Idul Adha yang Sarat Makna Religi dan Budaya

"Kita butuh strategi untuk memperkuat nilai dasar suatu daerah agar masyarakatnya percaya diri menjadi tuan di rumah sendiri. Samsara Bamboo Festival hadir untuk melahirkan pola pengembangan yang menyelaraskan antara preservasi budaya, konservasi lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan tanaman bambu," ujar Ida Bagus Agung Gunarthawa.

Di Bali, bambu juga dikenal dengan sebutan “emas hijau”. Julukan tersebut muncul karena bambu dianggap memiliki fungsi penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Dalam aspek spiritual, bambu digunakan sebagai bagian dari sarana Panca Yadnya. Selain itu, bambu juga hadir dalam arsitektur tradisional dan berbagai instrumen seni budaya Bali.

Tidak hanya itu, bambu juga berkaitan dengan tradisi sosial masyarakat seperti ngayah. Dari sisi lingkungan, tanaman tersebut dinilai membantu konservasi air dan pencegahan erosi.

Sementara dalam bidang ekonomi, bambu berkembang menjadi komoditas ekspor dan material pendukung eco-tourism. Karena itu, festival ini juga diarahkan untuk memperkuat potensi ekonomi kreatif berbasis lingkungan.

Selama pelaksanaan festival, sejumlah kegiatan berbasis literasi dan kolaborasi lintas sektor turut digelar. Kegiatan tersebut melibatkan unsur akademisi, komunitas, pemerintah, pelaku bisnis, hingga media.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X