SketsaNusantara.id - Kasus meninggalnya dokter internship, dr Myta Aprilia Azmy, terus menjadi perhatian publik. Setelah sebelumnya disorot karena dugaan beban kerja berlebih, kini muncul polemik baru berupa tangkapan layar percakapan yang diduga melibatkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Perbincangan ini mencuat setelah sebuah akun di platform Twitter, yakni @txtdarijasputih, mengunggah cuitan pada 3 Mei 2026. Dalam unggahan tersebut, terlihat tangkapan layar yang diklaim berasal dari percakapan internal yang membahas kematian dr Myta.
Isi percakapan tersebut menuai kontroversi karena dinilai menyudutkan almarhumah. Dalam tangkapan layar itu, disebutkan bahwa seharusnya yang bersangkutan tidak lolos skrining kesehatan untuk program internship karena diduga memiliki penyakit tertentu. Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan luas di kalangan warganet.
Tak hanya itu, dalam percakapan yang beredar, juga disebutkan adanya permintaan untuk menelusuri lokasi pelaksanaan medical check-up (MCU) yang dijalani oleh dr Myta. Hal ini menambah spekulasi terkait kemungkinan adanya masalah dalam proses pemeriksaan kesehatan sebelum penempatan internship.
Namun, informasi lain yang turut beredar menyebutkan bahwa dr Myta telah menjalani seluruh prosedur dengan jujur dan sesuai ketentuan. Ia diketahui telah menyelesaikan masa stase di puskesmas selama enam bulan sebelum melanjutkan penugasan di rumah sakit.
Sejumlah pihak juga menjelaskan bahwa masa inkubasi Tuberkulosis (TB) umumnya berkisar antara satu hingga dua bulan. Dengan demikian, ada kemungkinan paparan terjadi setelah proses MCU dilakukan. Jika hal itu benar, maka kondisi kesehatan saat pemeriksaan awal memang belum menunjukkan tanda penyakit.
Penjelasan ini menjadi dasar bagi sebagian warganet untuk mempertanyakan narasi yang menyalahkan korban. Mereka menilai bahwa sistem kerja dan beban tugas dokter internship juga perlu menjadi fokus utama dalam evaluasi.
Di sisi lain, publik juga menyoroti dugaan jam kerja tidak wajar yang dijalani dr Myta selama bertugas di IGD RSUD KH Daud Arif. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa ia tetap menjalankan tugas meski dalam kondisi kesehatan yang menurun, bahkan hingga mengalami sesak napas dan demam tinggi.
Reaksi warganet pun beragam. Sebagian mengkritik keras isi percakapan yang beredar, sementara lainnya mempertanyakan validitas tangkapan layar tersebut. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai keaslian chat tersebut maupun klarifikasi langsung dari pihak terkait.
Perdebatan ini memperlihatkan besarnya perhatian publik terhadap sistem pendidikan dan penugasan dokter di Indonesia. Banyak yang mendorong adanya evaluasi menyeluruh, baik terkait skrining kesehatan, beban kerja, maupun perlindungan bagi tenaga medis muda.
Kasus dr Myta Aprilia kini tidak hanya menjadi isu kesehatan, tetapi juga menyentuh aspek kebijakan dan tata kelola sistem internship. Publik berharap adanya transparansi dan langkah konkret dari pemerintah untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Artikel Terkait
Humas Polda Metro Jaya Buka Suara Terkait Pemeriksaan Istri Dokter Richard Lee, Ada Apa?
Update Korban Air Keras Andrie Yunus, Jalani Operasi Mata Ketiga, Tim Dokter Temukan Kebocoran Bola Mata
Kasus Dokter Richard Lee Masuk Tahap Baru, Berkas Dilimpahkan ke Kejati Banten, Penahanan Diperpanjang 40 Hari
Datangi Polda Metro Jaya, Dokter Detektif Desak Pengusutan TPPU dalam Kasus Richard Lee yang Sudah Jadi Tersangka
Nunung Alami Nyeri Hebat Misterius, Dokter Sarankan MRI untuk Cek Dugaan Saraf Kejepit