Kemampuannya ini membuat ikan sapu-sapu sering dianggap sebagai "spesies tangguh" yang sulit diberantas. Namun, temuan Pandawara justru menunjukkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan.
Ikan sapu-sapu yang mati dengan sendirinya mengindikasikan bahwa lingkungan sungai tersebut kemungkinan sudah melewati batas aman, sehingga membahayakan ekosistem perairan sekaligus berpotensi mengancam kesehatan manusia.
Video tersebut memicu beragam reaksi dari warganet. Banyak yang menilai fenomena ini sebagai tanda serius kerusakan lingkungan bahkan bisa disebut sebagai tanda-tanda "kiamat ekologis".
Kiamat ekologis merupakan istilah yang menggambarkan kehancuran tatanan lingkungan hidup akibat kerusakan alam masif yang dipicu oleh aktivitas manusia yang berlebihan.
Situasi ini mengindikasikan krisis ekologi yang melampaui kapasitas regenerasi bumi, yang bisa menyebabkan bencana alam, kehilangan habitat, dan ancaman kelangsungan hidup manusia.
"Parah nih, jika ikan sapu-sapu sampai mati di sebuah sungai, itu tandanya kondisi airnya sudah dalam tahap kiamat ekologis. Padahal ikan ini adalah 'benteng terakhir' kalau mereka saja nyerah berarti sungai itu jadi 'zona mati' yang tidak bisa mendukung kehidupan makhluk hidup apa pun," komentar salah satu warganet.
Banyak yang menyoroti penyebab ikan sapu-sapu mati hingga akhirnya menepi ke daratan karena kadar oksigen yang sangat rendah akibat paparan limbah kimia berbahaya, atau suhu air yang terlalu tinggi akibat cuaca ekstrem.
Jika kondisi tersebut benar terjadi, maka sungai tersebut berpotensi menjadi "zona mati" yang tidak lagi mampu mendukung kehidupan organisme air hingga berpotensi menimbulkan bencana ekologis yang berdampak pada kehidupan manusia.
Baca Juga: Gubernur Pramono Anung Instruksikan Pembasmian Ikan Sapu-Sapu di Jakarta, Ini Alasan Ilmiahnya
Di sisi lain, Pandawara juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan komunitas yang tengah berupaya mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di berbagai daerah.
Namun, mereka menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya soal populasi ikan invasif, melainkan kondisi lingkungan itu sendiri.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa pencemaran sungai bisa berdampak jauh lebih besar dari yang terlihat. Bahkan spesies yang dikenal paling tangguh pun bisa kalah jika ekosistem sudah rusak terlalu parah.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Ekosistem Raja Ampat Terancam Tambang Nikel, Susi Pudjiastuti Desak Pemerintah Bertindak Cepat
Skandal Tambang Nikel di Raja Ampat! Luas Konsesi PT Gag Nikel Dua Kali Pulau Gag, Ekosistem Laut Papua Terancam Punah
Kementerian Lingkungan Hidup Akan Ambil Langkah Tegas terhadap Aktivitas Tambang yang Merusak Ekosistem Raja Ampat
Lepas Ratusan Tukik dan Burung ke Pantai Papuma, Perhutani Jember: Ini Langkah Nyata Menjaga Ekosistem Alam
4 Fakta Penangkapan 6,9 Ton Ikan Sapu-sapu di Jakarta, Gubernur Pramono Anung Bakal Siapkan ‘Pasukan Khusus’
7 Ton Ikan Sapu-Sapu Ditangkap di Jakarta, Cara Pemusnahan Dikritik MUI dan Pemprov Diminta Evaluasi Metode