Kamis, 4 Juni 2026

Tak Perlu Diburu, Pandawara Temukan Ikan Sapu-Sapu Mati Sendiri di Pinggiran Sungai, Soroti Rusaknya Ekosistem Akibat Pencemaran yang Terlalu Parah

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Jumat, 24 April 2026 | 14:30 WIB
Pandawara tunjukkan ikan sapu-sapu mati di sekitaran sungai, ungkap fakta mengejutkan rusaknya ekosistem akibat pencemaran air yang terlalu parah  (Instagram @pandawaragroup)
Pandawara tunjukkan ikan sapu-sapu mati di sekitaran sungai, ungkap fakta mengejutkan rusaknya ekosistem akibat pencemaran air yang terlalu parah (Instagram @pandawaragroup)

SketsaNusantara.id – Di tengah maraknya perburuan ikan sapu-sapu di wilayah Jabodetabek, video terbaru dari Pandawara Group justru menyuguhkan fakta yang lebih mengkhawatirkan.

Dalam unggahan di Instagram pada hari Kamis, 23 April 2026, sekelompok pemuda yang dikenal melalui gerakan aktif membersihkan sampah di sungai itu awalnya berniat memeriksa kondisi perairan, termasuk mengecek keberadaan ikan sapu-sapu di beberapa wilayah.

Namun, temuan di lapangan justru di luar dugaan. Alih-alih melihat ikan yang hidup dan berkembang, mereka menemukan banyak ikan sapu-sapu dalam kondisi mati sendiri di pinggiran sungai, bahkan tanpa perlu diburu sekalipun.

Baca Juga: Sering Dianggap Hewan ‘Pembersih’ Ini Bahaya Ikan Sapu-sapu bagi Lingkungan, Bisa Memicu Erosi di Bantaran Sungai!

"Kalau di kotaku, ikan sapu-sapu nggak harus diburu. Dia bakal mati sendiri, karena tidak bisa survive dan bertahan hidup di sungai ini," ujar salah satu perwakilan Pandawara dikutip SketsaNusantara.id dari video yang diunggah di akun Instagram @pandawaragroup.

Pernyataan itu sontak menjadi sorotan, karena ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies yang sangat kuat dan mampu bertahan di kondisi ekstrem.

Dalam video tersebut, Pandawara menjelaskan bahwa kematian ikan sapu-sapu bisa menjadi indikator bahwa kondisi sungai sudah sangat tercemar. Bukan hanya ikan dewasa, mereka juga anak-anak ikan (baby fish) yang sekarat dan mati di aliran sungai tersebut.

"Sekelas ikan sapu-sapu saja tidak bisa bertahan, berarti bisa dibayangkan betapa tercemarnya air di sini. Tandanya, sungai ini sudah sangat terkontaminasi oleh berbagai macam limbah," ungkapnya.

"Sedikit kabar baik, karena nggak ada sapu-sapu yang merusak ekosistem ikan. Tapi selebihnya kabar buruk karena udah dibilang parah banget pencemaran ekosistem yang ada di sungai ini," katanya.

Baca Juga: Menguasai Sungai di Jakarta, Berikut 5 Fakta Ikan Sapu-sapu, Berasal dari Amerika Selatan hingga Dianggap Merusak Ekosistem

Kondisi ini diperparah dengan menyusutnya volume air sungai akibat musim kemarau, yang membuat ikan-ikan tersebut terdampar di pinggiran dan semakin sulit bertahan hidup.

"Kemungkinan juga ikan sapu-sapu ada yang mati karena akibat penyusutan air sungai, sehingga dia terdampar di pinggiran dan nggak lama bisa bertahan hidup," ujarnya.

Secara ilmiah, ikan sapu-sapu atau Plecostomus dikenal sebagai spesies invasif yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi.

Ikan ini mampu bertahan di air dengan kadar oksigen rendah, dan hidup di perairan tercemar. Mereka juga bisa beradaptasi pada suhu yang berubah-ubah, dan bisa bertahan di daratan selama 13–20 jam.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: Instagram @pandawagroup

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X