SketsaNusantara.id – Di tengah maraknya perburuan ikan sapu-sapu di wilayah Jabodetabek, video terbaru dari Pandawara Group justru menyuguhkan fakta yang lebih mengkhawatirkan.
Dalam unggahan di Instagram pada hari Kamis, 23 April 2026, sekelompok pemuda yang dikenal melalui gerakan aktif membersihkan sampah di sungai itu awalnya berniat memeriksa kondisi perairan, termasuk mengecek keberadaan ikan sapu-sapu di beberapa wilayah.
Namun, temuan di lapangan justru di luar dugaan. Alih-alih melihat ikan yang hidup dan berkembang, mereka menemukan banyak ikan sapu-sapu dalam kondisi mati sendiri di pinggiran sungai, bahkan tanpa perlu diburu sekalipun.
"Kalau di kotaku, ikan sapu-sapu nggak harus diburu. Dia bakal mati sendiri, karena tidak bisa survive dan bertahan hidup di sungai ini," ujar salah satu perwakilan Pandawara dikutip SketsaNusantara.id dari video yang diunggah di akun Instagram @pandawaragroup.
Pernyataan itu sontak menjadi sorotan, karena ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies yang sangat kuat dan mampu bertahan di kondisi ekstrem.
Dalam video tersebut, Pandawara menjelaskan bahwa kematian ikan sapu-sapu bisa menjadi indikator bahwa kondisi sungai sudah sangat tercemar. Bukan hanya ikan dewasa, mereka juga anak-anak ikan (baby fish) yang sekarat dan mati di aliran sungai tersebut.
"Sekelas ikan sapu-sapu saja tidak bisa bertahan, berarti bisa dibayangkan betapa tercemarnya air di sini. Tandanya, sungai ini sudah sangat terkontaminasi oleh berbagai macam limbah," ungkapnya.
"Sedikit kabar baik, karena nggak ada sapu-sapu yang merusak ekosistem ikan. Tapi selebihnya kabar buruk karena udah dibilang parah banget pencemaran ekosistem yang ada di sungai ini," katanya.
Kondisi ini diperparah dengan menyusutnya volume air sungai akibat musim kemarau, yang membuat ikan-ikan tersebut terdampar di pinggiran dan semakin sulit bertahan hidup.
"Kemungkinan juga ikan sapu-sapu ada yang mati karena akibat penyusutan air sungai, sehingga dia terdampar di pinggiran dan nggak lama bisa bertahan hidup," ujarnya.
Secara ilmiah, ikan sapu-sapu atau Plecostomus dikenal sebagai spesies invasif yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi.
Ikan ini mampu bertahan di air dengan kadar oksigen rendah, dan hidup di perairan tercemar. Mereka juga bisa beradaptasi pada suhu yang berubah-ubah, dan bisa bertahan di daratan selama 13–20 jam.
Artikel Terkait
Ekosistem Raja Ampat Terancam Tambang Nikel, Susi Pudjiastuti Desak Pemerintah Bertindak Cepat
Skandal Tambang Nikel di Raja Ampat! Luas Konsesi PT Gag Nikel Dua Kali Pulau Gag, Ekosistem Laut Papua Terancam Punah
Kementerian Lingkungan Hidup Akan Ambil Langkah Tegas terhadap Aktivitas Tambang yang Merusak Ekosistem Raja Ampat
Lepas Ratusan Tukik dan Burung ke Pantai Papuma, Perhutani Jember: Ini Langkah Nyata Menjaga Ekosistem Alam
4 Fakta Penangkapan 6,9 Ton Ikan Sapu-sapu di Jakarta, Gubernur Pramono Anung Bakal Siapkan ‘Pasukan Khusus’
7 Ton Ikan Sapu-Sapu Ditangkap di Jakarta, Cara Pemusnahan Dikritik MUI dan Pemprov Diminta Evaluasi Metode