Potensi Bahaya Space Debris Menghantam Bumi
Meski sebagian besar sampah antariksa akan terbakar habis saat memasuki atmosfer, namun tetap ada risiko terutama jika space debris yang meluncur ukurannya cukup besar.
Serpihan yang tidak habis terbakar tak hanya jatuh ke laut, dan mungkin bisa menghantam ke permukaan Bumi dan sangat bebahaya jika mengenai area permukiman warga.
BRIN juga menyebut potensi bahaya sampah antariksa jika sampah antariksa bisa menabrak satelit aktif yang bisa mengganggu komunikasi, termasuk navigasi GPS, hingga pemantauan cuaca.
"Sampah antariksa berpotensi tabrakan dengan satelit aktif sehingga ada upaya untuk membatasi sampah antariksa. Kalau jatuh, bisa sampai berton-ton beratnya dan membahayakan jika menghantam daratan," ungkap Thomas Jamaluddin.
"Meski kejadiannya langka, dulu di Madura ada sampah antariksa milik Space-X Amerika jatuh tapi di kandang domba. Potensi bahaya bisa dilihat dari diameter objek dan potensinya kecil sekali," pungkasnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa aktivitas manusia di luar angkasa juga meninggalkan "jejak" yang bisa berdampak kembali ke Bumi.
Sampah antariksa sangat mengganggu orbit Bumi. Puing-puing ini bisa bergerak dengan kecepatan ekstrem (hingga 25.200 km/jam), mengancam keselamatan satelit aktif, stasiun luar angkasa (ISS), dan berpotensi menciptakan rantai tabrakan (Kessler syndrome) yang merusak teknologi komunikasi serta GPS secara permanen di seluruh dunia.
Sudah ada alat Active Debris Removed atau robot yang dioperasikan mengumpulkan sampah antariksa. Namun, perlu diperlukan kerjasama global untuk menangani masalah ini agar tak menjadi ancaman yang bisa mengganggu keberlangsungan hidup di bumi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Heboh Benda Bercahaya Terang Disertai Dentuman Keras Diduga Meteor Jatuh di Langit Cirebon, Begini Tanggapan BMKG hingga Penjelasan dari Peneliti BRIN
Geger Bola Api dan Dentuman Keras di Cirebon, BMKG-BRIN Kompak Ungkap Penyebabnya, Minta Masyarakat Tak Panik
Kenapa Disebut Blood Moon? Ini Penjelasan BRIN soal Penyebab Bulan Berwarna Merah saat Gerbana Bulan Total 3 Maret 2026
NASA Rilis Foto Perbandingan Bumi di Tahun 1969 dan 2026, Simak Perbedaan yang Mencolok Potret Bumi Dulu dan Sekarang
Ahli Astronomi Ungkap Dugaan Benda Bercahaya yang Melintas di Langit Lampung: Bukan Komet