2. Space Debris Meluncur Masuk ke Atmosfer Bumi dengan Kecepatan Tinggi
Ketika masuk ke atmosfer bumi, sampah antariksa ini mungkin terlihat meluncur melambat menuju permukaan.
Sampah antariksa bisa bergerak hingga 8 km per detik atau sekitar 28.000 km/jam, bahkan dalam kondisi tertentu, kecepatan tabrakan bisa mencapai 15 km per detik, jauh lebih cepat dari peluru.
3. Lebih Banyak yang 'Mati' daripada Aktif
Lebih dari separuh satelit yang berada di orbit Bumi saat ini sebenarnya sudah tidak aktif lagi, menjadi sampah luar angkasa yang bisa menjadi ancaman tak terkendali jika menghantam permukaan bumi.
Ilmuwan mengkhawatirkan terjadinya Sindrom Kessler, yaitu kondisi ketika jumlah sampah terlalu banyak sehingga terjadi tabrakan antar puing yang menciptakan lebih banyak serpihan baru secara berantai hingga orbit Bumi menjadi berbahaya untuk digunakan.
4. Bentuknya Beragam: Ada yang Beratnya Lebih dari 1 Ton
Tidak hanya satelit non aktif, jenis sampah antariksa bentuknya beragam. Ada yang berupa serpihan kecil seperti cat roket hingga pecahan potongan logam raksasa, bahkan ada yang bentuknya cukup besar dengan berat lebih dari 1 ton.
5. Sering Terlihat Melintas di Langit Indonesia
Menariknya, Indonesia termasuk wilayah yang cukup sering dilintasi sampah antariksa karena berada di garis khatulistiwa yang diketahui sebagai jalur strategis orbit satelit dan roket.
Tak heran, fenomena seperti di Lampung bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, sampah antariksa terlihat melintas dan terlihat di langit Yogyakarta hingga Jawa Barat tahun 2025.
Banyak orang keliru mengira sampah antariksa sebagai meteor. Keduanya memang terlihat mirip karena sama-sama menghasilkan cahaya saat memasuki atmosfer.
Meski kecepatannya lebih lambat dibanding meteor, sampah antariksa tetap menghasilkan jejak cahaya terang yang bisa terlihat jelas dari Bumi.
Artikel Terkait
Heboh Benda Bercahaya Terang Disertai Dentuman Keras Diduga Meteor Jatuh di Langit Cirebon, Begini Tanggapan BMKG hingga Penjelasan dari Peneliti BRIN
Geger Bola Api dan Dentuman Keras di Cirebon, BMKG-BRIN Kompak Ungkap Penyebabnya, Minta Masyarakat Tak Panik
Kenapa Disebut Blood Moon? Ini Penjelasan BRIN soal Penyebab Bulan Berwarna Merah saat Gerbana Bulan Total 3 Maret 2026
NASA Rilis Foto Perbandingan Bumi di Tahun 1969 dan 2026, Simak Perbedaan yang Mencolok Potret Bumi Dulu dan Sekarang
Ahli Astronomi Ungkap Dugaan Benda Bercahaya yang Melintas di Langit Lampung: Bukan Komet